Amour

Amour
La voix de mon coeur t'appelle, c'est ma plume qui te l'écrit et mon coeur qui te le dit

Kamis, 23 April 2015

Sibayak it's Amazing



Pendakian di mulai pada malam hari dan harus bermalam diatas dengan memasang tenda, ini sungguh pengalaman pertama.
Aku bersama dengan teman-teman yang lain janji akan berkumpul di pintu satu. Baru setelah itu akan pergi ke stasiun bus di Padang Bulan juga untuk bertemu dengan yang lainnya. Dari Padang Bulan perjalanan itu di mulai. Kami berangkat di jam 19.15 WIB.
Gunung Sibayak yang akan kami daki itu terletak di dataran tinggi Karo. Tepatnya di Brastagi. Kurang lebih 2-3 jam perjalan darat dari kota Medan. Kalau tidak salah kami sampai di jam 21.30 WIB. Lalu menunggu lagi selama 30 menit mencari angkutan menuju kaki Gunung Sibayak dan perjalanan di mulai menuju spot terakhir.
Spot terakhir ada di kaki Gunung Sibayak. Disinilah kami akan memulai perjalan dengan berjalan kaki. Dari sini kami bersiap-siap dengan jaket karena udara mulai dingin, senter dan juga syal bagi yang tak kuat dingin.
Sebelum memulai pendakian dari jalan spot terakhir di kaki Gunung Sibayak. Kami harus menghitung jumlah anggota didalam satu kelompok. Kami berjumlah 17 orang diantaranya (B'Khaliq, Ilyas, Ilham, Ridwan, Hamdani, Ihsan, Seli, Nurwita, Lia, Hendra, Rasyid, Chandra, Rina, Wulan, Amrul, Heri dan aku sendiri). Jumlahnya dihitung supaya enggak ada yang hilang kali ya atau supaya enggak tercampur dengan kelompok pendaki yang lainnya. 

Pendakian kami lakukan pada malam hari. Perjalanan dari spot terakhir menuju pintu rimba sekitar 15-30 menit. Tapi sebenarnya tergantung dari seberapa cepat kami berjalan dan seberapa lama istirahatnya. Kalau perjalanan kami ini mungkin menghabiskan banyak waktu di istirahat. Ada sekitar 5 sampai 6 kali berhenti, karena ini juga pertama kali untukku dan terbilang masih amatir. Capeknya menurutku luar biasa tapi mungkin bagi pendaki yang lain biasa aja.
Kami menggunakan jalur turis. Ya mungkin karena jalurnya relatif mudah dan singkat. Jalannya juga sudah diaspal, jadi tinggal ngikutin jalannya aja. Tapi menurutku jalan itu sudah dikelilingi hutan dilihat dari cahaya senter. Wuih, benar-benar berasa gelapnya.
Pernah dengar kata-kata: kita enggak akan pernah tahu pengalaman apa yang akan kita dapatkan sebelum kita benar-benar mencobanya. Beruntung aku enggak membatalkan rencana naik gunung ini. Karena ternyata naik gunung malam-malam asyik juga bareng teman-teman yang lainnya. Suasananya rame-rame, apalagi setiap kami istirahat, pendaki yang satu dengan yang lainnya saling sapa gitu, enggak nyangka kalau para pendaki yang lain ramah-ramah.
Setelah menempuh perjalanan yang banyak istirahatnya dari jalan beraspal. Akhirnya kami sampai ke pintu rimba. Kami berhenti di ujung jalan beraspal di area yang agak datar. Benar-benar kaget kalau banyak kereta di situ, terus tempatnya terang gitu, jadi enggak berasa di gunung.
Sebelum melajutkan perjalanan menembus hutan, kami menggelar matras tipis dan beristirahat agak lama. Kalau di perhatikan ini perjalanan banyak istirahatnya daripada mendakinya, hahahh tapi seru juga sih.
Menunggu yang lainnya pada makan, aku tiduran di atas matras, wuuihh langitnya bersih banyak bintang, jarang ni di jumpai di kota. Ngeliat bintang-bintang itu aku jadi teringat sama satu buku Edensor karyanya Andrea Hirata tentang laki-laki zenit dan nadir. Dikatakan disitu bahwa langit adalah kitab yang terbentang, sejak masa Azoikum. Ketika kehidupan belum muncul langit sudah mencatat semua kejadian di muka bumi. Malam itu ingin kujadikan seperti puisi-puisi Lucretius tentang jagat angkasa, galaksi andromeda dan nebola-nebola triangulum. Bintang-bintang di langit sempurna malam ini, hanya dingin aja yang mengganggu.
Ditengah lagi ngayal tentang langit, eh malah yang lainnya udah pada selesai. Perjalanan akan dilanjutkan. Daripada nanti di tinggal sama yang lainnya mendingan nanti-nanti aja deh melamun tentang langitnya. Ribet kalau aku di tinggal soalnya enggak tau jalan.
Kami mulai bersiap-siap. Dari pintu rimba akan dimulai petualangan sekitar 1-2 jam (bagi amatir mungkin bisa menghabiskan waktu sekitar 3 jam). Kami mengikuti jalan setapak, jalan sudah tidak datar seperti yang kami lalui sebelumnya. Senter sangat dibutuhkan karena memasuki kawasan hutan yang gelap.
Kami melewati jalur tangga semen kemudian hutan pandan yang rimbun dikiri kanan lalu pada akhirnya menemukan jalur bebatuan, yang samar-samar dilihat dari cahaya senter. Udara semakin dingin karena kami sudah berada di atas. Beberapa kali berhenti karena lelah, duduk di batu-batu jalur pendakian.
Saat hampir mencapai kawah Sibayak. Salah satu anggota dari kelompok kami tiba-tiba sakit, jadi harus berhenti beberapa saat menunggunya untuk bisa melanjutkan perjalanan.
Jam tanganku hampir menunjukkan jam setengah 2 pagi. Selepas melewati  hutan pandan dan banyak jalan bebatuan, itu menandakan kalau kami sudah semakin dekat dengan puncak.
Dari mulai bebatuan ini akan terdengar suara desingan bising yang menurutku seperti suara air terjun. Suaranya cukup besar menurutku. Tapi kata temen, itu bukan suara air terjun, sebenarnya itu suara yang berasal dari pemicu vulkanik.
Karena sekarang kami berada di lembah di titik kawah Gunung Sibayak di dekat pemicu vulkanik.
Kami akan mendirikan tenda di kawah ini. Jam 2 pagi lewat 10 menit. Kami masih mencari tempat untuk mendirikan tenda. Mulai tercium bau berelang. Kami berjalan di area terbuka yang merupakan tempat untuk berkemah. 

Saat itu kami kesulitan untuk mencari tempat untuk berkemah. Entah siapa yang memulai sebelumnya karena para pendaki lain mulai menirukan suara-suara binatang. wuih aku takut bukan main, jadi cuma bisa diam aja terus mikir yang aneh-aneh gitu. Misalnya, kayak mana nanti gara-gara suara-suara itu kami semua di culik penghuni gunung? (Bisa jadi kan penghuni gunung marah, lantaran para pendaki menirukan suara-suara binatang. Kemungkin para pendaki kebanyakan nonton sinetron serigala ni), trus aku Jadi teringat sama cerita orang bunian yang tingal di batu-batu, yang parahnya kami lagi duduk di batu-batu, jangan-jangan itu rumah orang bunian (inilah akibat karena waktu kecil dulu sering ditakut-takuti). Jadi takut sama pemikiran sendiri untung ada lia yang ngajak ngobrol, syukurlah aku jadi lupa sama hantu gunungnya.
Kami pindah lokasi untuk membangun tenda, sekitar jam setengah 3 pagi cewek-cewek pada tidur di tenda, sementara temen-teman cowok lainnya di luar tenda trus mereka pasang api unggun.
Di dalam tenda sama teman-teman yang lainnya pakai selimut kayak kepompong, enggak bisa bergerak cuma bisa guling-guling kayak ulat, baru pertama kali pakai kayak gitu. Terus udah ada embun di atas tenda, dinginnya luar biasa.
Diluar tenda teman-teman cowok yang lainnya ada di dekat api unggun dan melantunkan lagu-lagu galau pakai gitar yang di bawa dari Medan.
Ya ampun, aku sama sekali enggak ngerti apa yang mereka nyanyikan karena mereka menggunakan bahasa daerah, terus dari mana aku tahu kalau itu lagu galau? Karena ada beberapa bait dari lagu yang mereka artikan dalam bahasa Indonesia.
Kira-kira kayak gini deh makna dari lagunya, kalau enggak salah, maklum lha ya dingin jadi engak fokus. Mereka nyanyikan seperti ini:
Kenapa harus berjumpa, tapi harus berpisah.
Kenapaku jatuh cinta?
Ini bukan salahku dan juga bukan salahmu
Tidak bisa aku lupakan
Tidak bisa hilang dari pikiranku
Hanya kaulah dihidupku, walau kau jauh dariku.
Galau deh dengernya. Oke lupakan lagunya, kita fokus ke pendakian menuju puncak.
Sekitar jam setengah lima pagi, aku dibangunkan sama teman-teman karena akan dimulai pendakian untuk melihat matahari terbit.
Dan menurutku, Sunrise trip ke Sibayak akan menjadi salah satu bagian terbaik dari perjalananku. Subuh itu pendakian di bagi menjadi dua. Ada puncak di sebelah kiri dan juga di sebelah kanan. Kelompok kami memilih jalur puncak sebelah kiri yang menurutku itu adalah puncak tertinggi. Ada banyak batu-batu yang dilewati bersama dengan pendaki yang lain. Beberapa kali kami berhenti untuk istirahat. Menurutku yang paling sulit adalah melewati tanjakan bebatu dengan pemicu vulkanik di dekatnya. Aroma dan asap berelang yang kental membuat kita sulit bernafas. 


Baru setelah itu hanya jalanan bebatu yang kami lewati bersama dengan pendaki yang lain. Hingga di suatu titik kami sudah mencapai puncak dan duduk di batu yang datar untuk menunggu matahari pagi terbit.
Saat duduk di pinggiran batu itu, ada puncak bukit yang lebih rendah di hadapan kami. Dari balik bukit itu pada langit pagi yang masih biru tua, kami masih bisa melihat hamparan lampu-lampu dari kota Brastagi. Enggak kebayang deh indahnya. 


Kami menunggu sunrise dipuncak Sibayak sekitar jam 6 pagi. Matahari muncul dan langit itu perlahan-lahan jadi cerah. Gunung Sinabung mulai terlihat dari kejauhan. Berdiam sejenak menikmati pemandangan sekitar Gunung Sibayak yang eksotis. Setelahnya kami pada sibuk mengabadikan foto karena tak ingin kehilangan moment indah di puncak tertinggi Sibayak.


Puas melihat-lihat dari puncak, sekitar jam 8 pagi kami kembali turun untuk kembali ke kemah. Sampai tenda yang lain pada istirahat, aku kembali mendaki puncak bersama yang lainnya, soalnya di Sibayak enggak cuma ada satu puncak, tapi terdiri dari banyak puncak. 


Puncak yang lainnya juga sama seperti bukit berbatu-batu. Ada juga kami temukan disana semacam danau kering yang sering dijadikan untuk tempat mengabadikan nama para pendaki dengan menyatukan batu-batu diatasnya. ditempat kami berdiri sekarang.
                                   
 Gunung Sibayak benar-benar eksotis pagi itu. Setelah puas melihat-lihat dan mendaki beberapa puncak lainnya di sekitar kawah, sekitar jam 10 pagi, perjalanan di mulai lagi dengan turun ke bawah karena kisah perjalanan ini akan berakhir. 




Malam saat kami mendaki, aku tak dapat melihat dengan jelas apa yang benar-benar kami lewati. Ternyata perjalanan ini melewati hutan khas hujan tropis yang menyelimuti gunung. Jenis pepohonan disekitar gunung ini selain kayu-kayu yang menjulang, ada juga jenis palem yang berduri. Enggak terasa perjalanan mendaki gunungnya cepat berakhir.


Perjalanan selanjutnya adalah kembali pulang ke Medan. Seperti lirik pada lagu yang aku ceritakan tadi. Kalau kenangan ini tidak bisa aku lupakan dan tak bisa hilang dari pikiranku. Makanya kisah ini aku abadikan di dalam tulisan. Makasih banyak buat teman-teman yang lain. Semoga kita bisa dipertemukan lagi di lain kesempatan.




4 komentar:

  1. assalamualaikum....kalian naik gunung sibayak jam berapa?.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naik gunungnya jam setengah delapan malam menuju pintu rimba, dari pintu rimba ke kawah Sibayak jam sebelas malam, sampai kawah jam 1 pagi. tidur sebentar di tenda, bangun jam 4 pagi trus mendaki puncak dan liat matahari terbit jam setengah 6.

      Hapus