Pendakian di mulai pada malam hari
dan harus bermalam diatas dengan memasang tenda, ini sungguh pengalaman
pertama.
Aku bersama dengan teman-teman yang
lain janji akan berkumpul di pintu satu. Baru setelah itu akan pergi ke stasiun
bus di Padang Bulan juga untuk bertemu dengan yang lainnya. Dari Padang Bulan
perjalanan itu di mulai. Kami berangkat di jam 19.15 WIB.
Gunung Sibayak yang akan kami daki
itu terletak di dataran tinggi Karo. Tepatnya di Brastagi. Kurang lebih 2-3 jam
perjalan darat dari kota Medan. Kalau tidak salah kami sampai di jam 21.30 WIB.
Lalu menunggu lagi selama 30 menit mencari angkutan menuju kaki Gunung Sibayak
dan perjalanan di mulai menuju spot terakhir.
Spot terakhir ada di kaki Gunung
Sibayak. Disinilah kami akan memulai perjalan dengan berjalan kaki. Dari sini
kami bersiap-siap dengan jaket karena udara mulai dingin, senter dan juga syal
bagi yang tak kuat dingin.
Sebelum memulai pendakian dari jalan
spot terakhir di kaki Gunung Sibayak. Kami harus menghitung jumlah anggota
didalam satu kelompok. Kami berjumlah 17 orang diantaranya (B'Khaliq, Ilyas,
Ilham, Ridwan, Hamdani, Ihsan, Seli, Nurwita, Lia, Hendra, Rasyid, Chandra,
Rina, Wulan, Amrul, Heri dan aku sendiri). Jumlahnya dihitung supaya enggak ada
yang hilang kali ya atau supaya enggak tercampur dengan kelompok pendaki yang
lainnya.
Pendakian kami lakukan pada malam hari. Perjalanan dari spot terakhir menuju
pintu rimba sekitar 15-30 menit. Tapi sebenarnya tergantung dari seberapa cepat
kami berjalan dan seberapa lama istirahatnya. Kalau perjalanan kami ini mungkin
menghabiskan banyak waktu di istirahat. Ada sekitar 5 sampai 6 kali berhenti,
karena ini juga pertama kali untukku dan terbilang masih amatir. Capeknya
menurutku luar biasa tapi mungkin bagi pendaki yang lain biasa aja.
Kami menggunakan jalur turis. Ya
mungkin karena jalurnya relatif mudah dan singkat. Jalannya juga sudah diaspal,
jadi tinggal ngikutin jalannya aja. Tapi menurutku jalan itu sudah dikelilingi
hutan dilihat dari cahaya senter. Wuih, benar-benar berasa gelapnya.
Pernah dengar kata-kata: kita enggak
akan pernah tahu pengalaman apa yang akan kita dapatkan sebelum kita
benar-benar mencobanya. Beruntung aku enggak membatalkan rencana naik gunung
ini. Karena ternyata naik gunung malam-malam asyik juga bareng teman-teman yang
lainnya. Suasananya rame-rame, apalagi setiap kami istirahat, pendaki yang satu
dengan yang lainnya saling sapa gitu, enggak nyangka kalau para pendaki yang
lain ramah-ramah.
Setelah menempuh perjalanan yang
banyak istirahatnya dari jalan beraspal. Akhirnya kami sampai ke pintu rimba.
Kami berhenti di ujung jalan beraspal di area yang agak datar. Benar-benar
kaget kalau banyak kereta di situ, terus tempatnya terang gitu, jadi enggak
berasa di gunung.
Sebelum melajutkan perjalanan
menembus hutan, kami menggelar matras tipis dan beristirahat agak lama. Kalau
di perhatikan ini perjalanan banyak istirahatnya daripada mendakinya, hahahh
tapi seru juga sih.
Menunggu yang lainnya pada makan, aku
tiduran di atas matras, wuuihh langitnya bersih banyak bintang, jarang ni di
jumpai di kota. Ngeliat bintang-bintang itu aku jadi teringat sama satu buku
Edensor karyanya Andrea Hirata tentang laki-laki zenit dan nadir. Dikatakan
disitu bahwa langit adalah kitab yang terbentang, sejak masa Azoikum. Ketika
kehidupan belum muncul langit sudah mencatat semua kejadian di muka bumi. Malam
itu ingin kujadikan seperti puisi-puisi Lucretius tentang jagat angkasa,
galaksi andromeda dan nebola-nebola triangulum. Bintang-bintang di langit
sempurna malam ini, hanya dingin aja yang mengganggu.
Ditengah lagi ngayal tentang langit,
eh malah yang lainnya udah pada selesai. Perjalanan akan dilanjutkan. Daripada
nanti di tinggal sama yang lainnya mendingan nanti-nanti aja deh melamun
tentang langitnya. Ribet kalau aku di tinggal soalnya enggak tau jalan.
Kami mulai bersiap-siap. Dari pintu
rimba akan dimulai petualangan sekitar 1-2 jam (bagi amatir mungkin bisa
menghabiskan waktu sekitar 3 jam). Kami mengikuti jalan setapak, jalan sudah
tidak datar seperti yang kami lalui sebelumnya. Senter sangat dibutuhkan karena
memasuki kawasan hutan yang gelap.
Kami melewati jalur tangga semen
kemudian hutan pandan yang rimbun dikiri kanan lalu pada akhirnya menemukan
jalur bebatuan, yang samar-samar dilihat dari cahaya senter. Udara semakin
dingin karena kami sudah berada di atas. Beberapa kali berhenti karena lelah,
duduk di batu-batu jalur pendakian.
Saat hampir mencapai kawah Sibayak.
Salah satu anggota dari kelompok kami tiba-tiba sakit, jadi harus berhenti
beberapa saat menunggunya untuk bisa melanjutkan perjalanan.
Jam tanganku hampir menunjukkan jam
setengah 2 pagi. Selepas melewati hutan
pandan dan banyak jalan bebatuan, itu menandakan kalau kami sudah semakin dekat
dengan puncak.
Dari mulai bebatuan ini akan
terdengar suara desingan bising yang menurutku seperti suara air terjun.
Suaranya cukup besar menurutku. Tapi kata temen, itu bukan suara air terjun,
sebenarnya itu suara yang berasal dari pemicu vulkanik.
Karena sekarang kami berada di lembah
di titik kawah Gunung Sibayak di dekat pemicu vulkanik.
Kami akan mendirikan tenda di kawah
ini. Jam 2 pagi lewat 10 menit. Kami masih mencari tempat untuk mendirikan
tenda. Mulai tercium bau berelang. Kami berjalan di area terbuka yang merupakan
tempat untuk berkemah.
Saat itu kami kesulitan untuk mencari
tempat untuk berkemah. Entah siapa yang memulai sebelumnya karena para pendaki
lain mulai menirukan suara-suara binatang. wuih aku takut bukan main, jadi cuma
bisa diam aja terus mikir yang aneh-aneh gitu. Misalnya, kayak mana nanti
gara-gara suara-suara itu kami semua di culik penghuni gunung? (Bisa jadi kan
penghuni gunung marah, lantaran para pendaki menirukan suara-suara binatang.
Kemungkin para pendaki kebanyakan nonton sinetron serigala ni), trus aku Jadi
teringat sama cerita orang bunian yang tingal di batu-batu, yang parahnya kami
lagi duduk di batu-batu, jangan-jangan itu rumah orang bunian (inilah akibat
karena waktu kecil dulu sering ditakut-takuti). Jadi takut sama pemikiran
sendiri untung ada lia yang ngajak ngobrol, syukurlah aku jadi lupa sama hantu
gunungnya.
Kami pindah lokasi untuk membangun
tenda, sekitar jam setengah 3 pagi cewek-cewek pada tidur di tenda, sementara
temen-teman cowok lainnya di luar tenda trus mereka pasang api unggun.
Di dalam tenda sama teman-teman yang
lainnya pakai selimut kayak kepompong, enggak bisa bergerak cuma bisa
guling-guling kayak ulat, baru pertama kali pakai kayak gitu. Terus udah ada
embun di atas tenda, dinginnya luar biasa.
Diluar tenda teman-teman cowok yang
lainnya ada di dekat api unggun dan melantunkan lagu-lagu galau pakai gitar
yang di bawa dari Medan.
Ya ampun, aku sama sekali enggak
ngerti apa yang mereka nyanyikan karena mereka menggunakan bahasa daerah, terus
dari mana aku tahu kalau itu lagu galau? Karena ada beberapa bait dari lagu
yang mereka artikan dalam bahasa Indonesia.
Kira-kira kayak gini deh makna dari lagunya, kalau enggak
salah, maklum lha ya dingin jadi engak fokus. Mereka nyanyikan seperti ini:
Kenapa harus berjumpa, tapi harus berpisah.
Kenapaku jatuh cinta?
Ini bukan salahku dan juga bukan salahmu
Tidak bisa aku lupakan
Tidak bisa hilang dari pikiranku
Hanya kaulah dihidupku, walau kau jauh dariku.
Galau deh dengernya. Oke lupakan
lagunya, kita fokus ke pendakian menuju puncak.
Sekitar jam setengah lima pagi, aku
dibangunkan sama teman-teman karena akan dimulai pendakian untuk melihat
matahari terbit.
Dan menurutku, Sunrise trip ke
Sibayak akan menjadi salah satu bagian terbaik dari perjalananku. Subuh itu
pendakian di bagi menjadi dua. Ada puncak di sebelah kiri dan juga di sebelah
kanan. Kelompok kami memilih jalur puncak sebelah kiri yang menurutku itu
adalah puncak tertinggi. Ada banyak batu-batu yang dilewati bersama dengan
pendaki yang lain. Beberapa kali kami berhenti untuk istirahat. Menurutku yang
paling sulit adalah melewati tanjakan bebatu dengan pemicu vulkanik di
dekatnya. Aroma dan asap berelang yang kental membuat kita sulit bernafas.
Baru setelah itu hanya jalanan bebatu
yang kami lewati bersama dengan pendaki yang lain. Hingga di suatu titik kami
sudah mencapai puncak dan duduk di batu yang datar untuk menunggu matahari pagi
terbit.
Saat duduk di pinggiran batu itu, ada
puncak bukit yang lebih rendah di hadapan kami. Dari balik bukit itu pada
langit pagi yang masih biru tua, kami masih bisa melihat hamparan lampu-lampu
dari kota Brastagi. Enggak kebayang deh indahnya.
Kami menunggu sunrise dipuncak
Sibayak sekitar jam 6 pagi. Matahari muncul dan langit itu perlahan-lahan jadi
cerah. Gunung Sinabung mulai terlihat dari kejauhan. Berdiam sejenak menikmati
pemandangan sekitar Gunung Sibayak yang eksotis. Setelahnya kami pada sibuk
mengabadikan foto karena tak ingin kehilangan moment indah di puncak tertinggi
Sibayak.
Puas melihat-lihat dari puncak,
sekitar jam 8 pagi kami kembali turun untuk kembali ke kemah. Sampai tenda yang
lain pada istirahat, aku kembali mendaki puncak bersama yang lainnya, soalnya
di Sibayak enggak cuma ada satu puncak, tapi terdiri dari banyak puncak.
Puncak yang lainnya juga sama seperti
bukit berbatu-batu. Ada juga kami temukan disana semacam danau kering yang
sering dijadikan untuk tempat mengabadikan nama para pendaki dengan menyatukan
batu-batu diatasnya. ditempat kami berdiri
sekarang.
Gunung Sibayak benar-benar eksotis pagi itu.
Setelah puas melihat-lihat dan mendaki beberapa puncak lainnya di sekitar
kawah, sekitar jam 10 pagi, perjalanan di mulai lagi dengan turun ke bawah karena kisah perjalanan ini akan berakhir.
Malam saat kami mendaki, aku tak
dapat melihat dengan jelas apa yang benar-benar kami lewati. Ternyata
perjalanan ini melewati hutan khas hujan tropis yang menyelimuti gunung. Jenis
pepohonan disekitar gunung ini selain kayu-kayu yang menjulang, ada juga jenis
palem yang berduri. Enggak terasa perjalanan mendaki gunungnya cepat berakhir.
Perjalanan selanjutnya adalah kembali
pulang ke Medan. Seperti lirik pada lagu yang aku ceritakan tadi. Kalau
kenangan ini tidak bisa aku lupakan dan tak bisa hilang dari pikiranku. Makanya
kisah ini aku abadikan di dalam tulisan. Makasih banyak buat teman-teman yang
lain. Semoga kita bisa dipertemukan lagi di lain kesempatan.


Kak boleh tanya?
BalasHapusiya. Mau nanya apa dek?
Hapusassalamualaikum....kalian naik gunung sibayak jam berapa?.
BalasHapusNaik gunungnya jam setengah delapan malam menuju pintu rimba, dari pintu rimba ke kawah Sibayak jam sebelas malam, sampai kawah jam 1 pagi. tidur sebentar di tenda, bangun jam 4 pagi trus mendaki puncak dan liat matahari terbit jam setengah 6.
Hapus