Amour

Amour
La voix de mon coeur t'appelle, c'est ma plume qui te l'écrit et mon coeur qui te le dit

Jumat, 02 Januari 2015

Holidays with Another



Ada keluarga dari jauh datang ke Medan, mereka datang dari Jambi. Kesempatan ini kami pakai untuk liburan bersama yang lainnya.
Tempat pertama  yang akan kami kunjungi adalah Hillpark. Sebuah wahana permainan yang terletak dipegunungan Sibolangit dan menghabiskan waktu satu jam didalam perjalanan. Sampai disana kami tak langsung memasuki wahana tapi berjalan-jalan dulu di sekitar wahana. Daerah di sini juga cukup dingin. Aku sengaja jalan lambat-lambat untuk menikmati keadaan sekitar. Aku melihat rumah dan ada pendoponya. Aku merasa tenang disini dan terkadang semilir angin sejuk lewat dan terasa dingin. Selain itu ada kolam kecil dan banyak bebek yang bewarna putih yang berenang diatas permukaan kolam.  Aku tak bosan berlama-lama disini. 

Setelah puas melihat-lihat suasana diluar wahana, hingga akhirnya kami memutuskan untuk memasuki wahana permainannya. Dari luar jika melihat Hillpark seperti melihat kastil megah seperti didalam film kerajaan-kerajaan Inggris. Tapi yang ini dibuat lebih modern. Ada juga kolam dengan air mancur dan patung-patung besi seperti prajurit  sebelum kita memasuki kawasan. Unik juga dengan tema kastil yang dibuat. Mereka menamainya dengan sebutan Kastil  Camelot. Didalam kita disambut dengan berbagai macam toko souvenir dan setelah puas melihat-lihat souvenir yang tidak terlalu menarik. Sekarang saatnya menikmati wahana. Berjalan memutarinya dan mencoba permainannya.   

Permainan apa saja yang ada didalamnya? Aku lihat disitu ada ombang-ambing, bom-bom, bumper boat, kalau kita naik bumper boat, kita seolah-olah didalam kapal lalu permainan kapal mulai di naik turunkan. Jika dibayangkan seperti kita berada didalam kapal yang diserang badai besar. perasaan mulai kacau dan perut mulai terasa mual, efek dari naik permainan itu. setelah turun dari permainan itu kepala terasa pusing berputar dan kaki sulit menginjak tanah (efek sampingnya lumayan lebai :D).
Tak berhenti disitu, aku melihat ada tulisan “The lost city”, seperti bebatuan yang disusun. Nuansa arsitektur kuno, tapi bagus kalau dijadikan objek foto. Kita seperti berada di kota yang hilang. didalamnya ada kincir raksasa, kalau kita menaiki kincir ini. Kita dapat melihat seluruh pemandangan. Ada villa yang berada disekitar kawasan. Villanya keren kalau dilihat dari atas. Kita seperti melihat rumah dengan arsitektur Eropa.
Ada juga Rooler Coster, kalau mencoba permainan ini, mungkin sebagian orang bilang seru. Tapi kalau aku yang mencobanya rasanya seperti dibanting-banting. Selesai mencoba permainan ini kakiku jadi biru-biru. 

Sebenarnya ada banyak permainan didalam wahana yang tak mungkin dicoba semuanya karena keterbatasan waktu. Ada permainan seperti baling-baling, puting beliung dan bisa juga menonton film dengan menggunakan 4D. pokoknya banyak permainannya, cuma aku lupa nama-namanya. Puas berkeliling, main-main dan melihat-lihat. Kaki juga mulai pegal karena berkeliling. Perjalanan kami pun dilanjutkan ke pemandian air panas debu-debu. Saat itu suasana sudah sore, udara pegunungan semakin dingin dan jaket semakin dirapatkan. 

Pemandian ini terletak didaerah Brastagi. Sampai disana sudah tercium aroma berelang. Walaupun aromanya seperti itu tapi aku suka dengan pemandangannya. Latar belakang pemandian ini adalah Gunung Sibayak yang sesekali mengeluarkan uap berelang. Bisa dibayangkan, kalau yang lain berendam air panas sambil menatap dari kejauhan uap berelang mengepul diudara Gunung Sibayak. Pemandangannya sungguh menakjubkan.
Aku merasakan udaranya menjadi semakin dingin. Ada sedikit gerimis yang turun dari langit. Langit yang sekarang menjadi biru tua karena hari mulai gelap. Tak tahan dengan dingin sementara yang lain berendam air panas. Aku mencari café dan teh hangat. Itu sangat membantu untuk menghalau udara dingin. Aku mencari pojokan café yang sunyi supaya tidak terganggu dengan obrolan  pengunjung cafe yang lain.
Aku mulai menghidupkan laptop. Aku pun mencari naskah yang sudah lama aku tinggalkan, aku kembali membaca draft kasar dari naskah itu, supaya aku bisa menemukan alur ceritanya lagi. Walau hanya bisa meneruskan beberapa lembar, senang rasanya karena naskah yang sudah lama aku tinggalkan itu tidak aku abaikan lagi. 

Saat aku keluar dari café, langit sudah gelap. Aku juga melihat yang lain juga sudah berganti baju. Setelah itu kami makan malam. lalu berikutnya kami semua harus beristirahat karena perjalanan dilanjutkan besok.
Besok paginya saat terbangun. Aku sudah melihat banyak selimut disekitarku. Mungkin karena dingin. Aku ingat saat liburan itu aku masih mengikuti suatu kompetisi. Jadi aku membutuhkan koneksi internet. Aku mengajak kakak dan sepupuku untuk keluar mencari kartu modem. Aku mengambil baju hangat dan mencari sepatu yang entah berada dimana. 
Baru berjalan beberapa langkah. Ada seseorang berteriak katanya Gunung Sinabung meletus. Semuanya pada keluar karena tak ingin kehilangan moment. Aku pun berlari kearah yang lain untuk melihat dan juga mengabadikan kejadian. 

Setelah mengabadikan foto. Aku kembali ke tujuan awal untuk mencari kartu. Setelah kartu itu aku dapatkan. aku kembali melihat jalanan, mobil-mobil yang hilir mudik menjadi berdebu. Udara menjadi tidak sehat dan aku dengar dari yang lain kalau Gunung Sinabung telah meletus sebanyak tujuh kali. Itulah sebabnya kualitas udara menjadi tidak bagus. Untuk perjalanan selanjutnya kami sebenarnya ingin ke Vihara yang ada di Brastagi, tapi kami tak bisa masuk karena ada erupsi Gunung Sinabung. Akhirnya diputuskan untuk pergi air terjun sepiso-piso. Nama sipiso-piso sendiri, katanya berasal dari piso yang artinya pisau. Dengan derasnya air yang jatuh dari bukit dengan ketinggian lebih dari seratus meter, jatuhnya air seperti berbilah-bilah pisau tajam. 

Air terjun yang jika kita ingin melihat air jatuhannya secara jelas, kita harus turun kebawah dengan banyak tangga. Kami semua tidak turun. Hanya menikmati air terjun dari atas. Aku juga tidak kuat untuk turun kebawah. Tapi suatu hari aku pasti coba turun kebawah dan melihat airnya secara langsung. Setelah menghabiskan makan siang kami mempercepat perjalanan liburan menuju Kota Siantar. 




Dari air terjun menuju Siantar, perjalanan kami melewati perkebunan teh dan terlihat banyak hamparan hijau. Kami berhenti sebentar untuk berfoto di hamparan hijaunya teh. Dan setelahnya, hamparan pohon-pohon teh itu membentang luas mengikuti perjalanan kami. 

Sampai di Siantar yang lain pada sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing dan aku juga sibuk dengan kompetisi yang aku ikuti. Lagian kompetisi itu ribet amat, musti harus pakai koneksi internet buat login, mana jaringan lelet lagi. Ampun deh…
Okedeh sekian dulu ceritanya, gara-gara kompetisi itu aku jadi lupa kelanjutan cerita liburannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar