Merencanakan
liburan adalah hal yang paling membuatku senang. Awalnya kami sekeluarga
merencanakan liburan ke Silalahi untuk memancing dan menikmati pinggiran Danau
Toba lalu menginap satu malam disana. Tapi rencana itu tiba-tiba saja berubah,
tak jadi pergi memancing ikan, kami malah berbelok arah ke Taman Simalem
Resort. Walau sempat pergi ke suatu daerah yang yang tidak aku kenal. Nama
daerah itu seperti dalam bahasa korea, mereka menyebutnya “Haranggaol”, tuh kan
bener kayak ada korea-koreanya gitu. kami juga tidak jadi pergi kesana dan kata orang-orang setempat itu
juga tempat untuk memancing.
Sampai di Taman Simalem dari security
command post. Kami diberikan peta lokasi tempat-tempat yang akan dikunjungi
didalam kawasan. Aku membolak-balik peta, membacanya lalu mengikuti petunjuk
yang ada dan menjadi pemandu jalan.
Memasuki kawasan, pertama-tama kami
melewati Cultural Heritage. Jalan terus menuju Fountain of Wealth. Menurutku Fountain of Wealth sebuah air
mancur yang indah itu adalah pusat dari kawasan Taman Simalem, dengan itu sebagai
patokannya, aku jadi lebih mudah dalam membaca peta. Dari Fountain of Wealth
kami menemukan dua jalan lurus kedepan dan berbelok ke kiri. Kami memilih
berbelok ke kiri menuju Buddhist Temple. Di Buddhist Temple kami hanya sebentar
karena tempatnya masih direnovasi lalu kembali lagi ke Fountain of Wealth sebagai
patokan, dan memilih jalan lurus kedepan melewati Labyrinth, mini golf, ada
juga Toba Café lalu berhenti di Pearl of lake Toba. Kemudian singgah ke
AgroMart.
Memasuki
AgroMart aroma teh dan kopi menyeruak dari dalam ruangan, dipenciuman terasa
hangat. Bahkan kita bisa mencicipi teh dan kopi di ujung ruangan. Aroma teh dan
kopi yang kuat itu berasal juga dari belakang AgroMart karena disitulah proses
pembuatan teh dan kopi berlangsung.
Didalam AgroMart juga dijual beberapa
buah-buahan dari kebun di kawasan Simalem. Kita juga bisa memilih buah-buahan
organik dan segar untuk di jus dan di minum sari buahnya di café didalam AgroMart.
Saat setelah keluar dari AgroMart
Perjalanan
berlanjut ke One Tree Hill, sebuah bukit hanya dengan satu pohon tertanam
dipuncaknya. Melihat one tree hill mengingatkan aku dengan novel “Kana di
Negeri Kiwi” cerita didalam novel itu,
kita juga menemukan One Tree Hill di Auckland , Selandia Baru. One Tree Hill
(Maungakiekie)
di Auckland konon tempat itu
memiliki nilai historis bagi orang Maori. Maungakiekie, artinya bukit anggur
kiekie, merupakan rumah bagi salah satu pemukiman suku Maori terbesar di
Selandia Baru dan mencakup tiga situs pa (benteng bukit). Masyarakat masa
lampau membuat terasering besar-besaran di bukit itu, dan merupakan benteng
olah bumi prasejarah terbesar di dunia.
Maungakieie yang mengagumkan
merupakan arena rekreasi yang luas bagi warga Auckland sekaligus para
pengunjung - dengan jalur pejalan kaki, hamparan hutan, area piknik, serta
kandang domba dan ternak, ada perasaan damai seperti di desa berada di ceruk
dalam kota ini. Begitulah sekilas ingatanku untuk novel “Kana di Negeri Kiwi”,
buku itu benar-benar mempesona. Melihat pemandangan di One Tree Hill membuatku
seolah-olah merasa seperti Dejavu (sesuatu hal yang pernah aku lihat padahal aku belum pernah melihatnya)
mungkin pengaruh dari membaca novel itu.
Di One tree Hill pemandangannya jauh
lebih indah karena dapat melihat seluruh pemandangan bahkan dapat melihat dengan jelas Danau Toba. Karena kawasan ini
juga merupakan tanah lapang dan tempatnya sangat tinggi, banyak angin yang
berhembus kearah kami. Bahkan suatu waktu angin itu juga membawa pasir yang
bisa membuat mata kelilipan karena terkena pasir yang dibawa angin. Ya ampun
aku juga baru pertama kali melihat pasir yang bergerak begitu besar saat angin
kencang mulai datang.
Dari One Tree Hill perjalanan
berlanjut lagi ke Flower Nursery. Menuju Flower nursery, kami lagi-lagi
melewati Fountain
of Wealth, lalu berhenti sebentar untuk mengabadikan foto di air mancur yang
terasa dingin jika airnya terkena ke badan tanpa sengaja.
Memasuki Flower Nursery sebagai tempat pembibitan bunga. Ada beberapa
bunga yang aku temui seperti bunga geranium untuk pengusir nyamuk, bunga
terompet dan ada beberapa bunga lainnya yang tidak aku kenal namanya.
Selebihnya banyak daun-daun didalam pot, yang membuatku tertarik adalah daun
didalam pot yang berwarna merah jambu, tertulis di papan namanya daun polkadot
(rada-rada aneh nama daunnya). Rasanya mau aku bawa pulang sekalian pot sama
papan namanya.
Bosan di Flower Nursery karena itu-itu saja yang dilihat. Kami berlanjut
turun ke bawah menuju zona petualangan. Aku malah tidak terlalu tertarik dan
terus berjalan menuju pinggiran sungai dan ada tempat-tempat kosong untuk
piknik. Aku bisa melihat aliran sungai dan banyak bebatuan. Untuk sesaat aku
berhenti dan menikmati pemandangan sekitar. Lalu berjalan lagi menuju Waterfall
Lodge.
Hal yang paling aku suka adalah beristirahat di Villa Eucaliptus. Dari
depan kita bisa melihat sungai yang mengalir dengan banyak bebatuan.
Aku bisa bermain air dan menenggelamkan kakiku hanya sebatas mata kaki
kedalam air yang sedingin es, kaki ini sepertinya bisa membeku.
Ini sebutannya sama seperti “alam semula jadi”, maksudnya sesuatu yang
benar-benar alami dan menyatu dengan alam. Di belakang villa ada juga air
terjun yang indah, hati-hati berada di air terjun karena licin, bangku disampingnya
juga licin, dan sepertinya aku betah berada di sini.




Subhanallaaaah... Ceritanya keren! Selalu tentang travelling... Jadi iriiii...
BalasHapusAku jadi ingin travelling dan akan kutulis cerita seperti ini...
Adefia Utami, bahasamu semakin bagus. Aku akan belajar banyak darimu.
Proud of you.
Salam Manis,
Zyadah
makasia Zyadah :)
BalasHapussalam manis juga untuk Zyadah :)