Perasaan
senang saat memilih liburan bersama teman-teman lainnya. Ada Aku, Siti, Loli, Rina,
Desi, Ira dan Ella’. Kota yang kami akan kunjungi untuk liburan kali ini adalah
Siantar. Mungkin sudah ratusan kali aku mengunjungi kota ini. Tapi menjadi
benar-benar berbeda saat aku dan temen-teman yang mengunjunginya.
Perjalanan liburan dimulai dari
stasiun kereta api. Kami sudah berjanji untuk berkumpul di stasiun. Dan tidak
disangka akulah orang yang paling lama datang ke stasiun. Untung enggak
ditinggali. Kawan-kawan yang lain juga udah pada ngirim pesan karena cuma aku
yang belum datang waktu itu. keterlambatanku dikarenakan macet lampu merah di jalan, baru sekitar 10 menit aku baru tiba di
stasiun. Aku sudah melihat teman-teman lainnya dan tanpa menunggu waktu lagi
kami langsung menuju tempat pemeriksaan tiket untuk selanjutnya naik kereta
api.
Kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam
dalam perjalanan. Kota Siantar jaraknya sekitar 127 km dari Medan dan
dikelilingi areal perkebunan. Sekitar jam 6 sore kami telah sampai di Siantar.
Dari stasiun menuju penginapan, kami menggunakan jasa becak Siantar yang
historical dan unik. Becak Siantar dikatakan unik dikarenakan penggunaan sepeda
motor BSA (Birmingham Small Arms) sebagai penggeraknya, ini juga menjadi ikon
penambah daya tarik Pematang Siantar. Awalnya kendaraan roda tiga ini adalah
sepeda motor BSA buatan Inggris. Berdasarkan sejarah kendaraan ini dulunya alat
transportasi perang yang digunakan tentara Inggris di Pulau Jawa pada saat
Perang Dunia II. Waw, kami begitu beruntung bisa naik becak Siantar mengingat
sejarahnya yang seperti itu. Kami
memesan 3 becak sekaligus, dibecak pertama ada aku dan loli, dibecak kedua ada Siti
dan Rina, sementara dibecak ketiga ada Ira, Desi dan Ella’ yang ternyata
disindir tukang becak karena mereka terlalu ribut (ya ampun… ya ampun.., baru
pertama kali ke Siantar mereka udah disindir tukang becak. Heheehheh :D)
Kami
memilih menginap di Humanitas tepatnya di depan Bank Indonesia. Tiba di
penginapan kami langsung reservasi dan tak berlama-lama di penginapan. Hanya
merebahkan badan sebentar, berganti baju dan pergi makan malam di Siantar
Squere.
Aku
benar-benar menikmati perjalanan ini. Udara dingin Siantar yang sejuk, langit
malam berbintang dan suasana ramai bersama teman-teman yang lain. Siantar juga
sangat cocok untuk tempat berwisata kuliner.
Setelah acara makan malam usai, kami
kembali lagi ke penginapan di jam 10 malam. awalnya kami ada rencana untuk main
kartu tapi kami malah memilih untuk tidur dikamar masing-masing karena sudah
terlalu lelah dan sudah tidak sanggup lagi buat main kartu.
Keesokan paginya, banyak tempat yang
akan kami kunjungi (Cuma tiga tempat sih).
Tempat
pertama yang menjadi destinasi kami adalah Vihara Avalokitesvara. Itu
dikarenakan teman-teman yang penasaran
saat melihat patung yang menjulang tinggi dari Siantar Squere, kami semua
terpesona dan ingin kesana. Vihara ini terletak di Jalan Pane. Saat memasuki
kawasan saja kami sudah melihat kemegahan patung Bodhisatva Avalokitesvara
(Dewi Kwan Im) yang menjulang begitu tinggi. Patung ini memiliki tinggi kurang
lebih 22,8 meter dan dari beberapa sumber yang ada, kalau patung ini terbuat
dari batu granit dan didatangkan langsung dari Negeri Cina. Waaaw, bener-benar
hebat.
Patung Dewi Kwan Im merupakan patung
terbesar di Indonesia dan Avalokitesvara juga mempunyai arti. Aval artinya
mendengar, lokite berarti dunia, svara artinya suara. Avalokitesvara berarti mendengar suara dunia
yang penuh dengan penderitaan. Avalokitesvara juga sering disebut sebagai dewi
welas Asih.
Disekeliling patung Dewi Kwan Im
terdapat patung-patung ksatria dan dewa-dewa. Di lokasi patung juga terdapat
lonceng besar. Dari pelataran atas kami juga dapat melihat pemandangan kota Siantar
yang ada di sekitar vihara. Dari pelataran itu, saat kami membuka mata,
hangatnya matahari telah menyinari pagi ini, Angin pagi benar-benar
menyejukkan.
Di
sepanjang halaman juga terdapat banyak
sekali ukiran-ukiran, kata teman-teman yang melihatnya, kami seolah-olah seperti berada di Jogja
dengan adanya ukiran seperti itu. kami juga terpesona dengan banyaknya patung dewa-dewa yang juga terbuat dari batu
granit, ukirannya sangat halus dan rapi.
Juga kolam ikan dan diatasnya ada jembatan yang indah.
Tak berlama-lama di vihara, setelah
puas melihat-lihat dan berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Binatang Siantar. Kami beruntung karena
mengunjungi Siantar tidak pada hari libur, dengan begitu keadaan kebun binatang
agak sepi dan kami bisa puas melihat binatang-binatang yang ada.
Kebun
binatang Siantar banyak ditumbuhi pepohonan jadi terkesan asri dan sejuk,
fasilitas taman hewan ini juga terawat dengan baik. Ada juga museum, kolam
renang untuk anak-anak dan juga taman bermain, tapi sayang taman bermainnya
tidak dihidupkan karena sedikit orang yang datang ke kebun binatang. Ke taman
hiburan kami masuk melalui pintu mulut harimau.
Kebun binatang Siantar banyak memiliki
koleksi hewan. Mulai dari mamalia, Aves dan Reptil. Ada juga binatang langka
seperti harimau putih dan juga harimau Sumatera. Kami juga mendengar Singa
Afrika yang mengaum begitu keras. Ada juga keluarga monyet, komodo, zebra,
landak, unta, buaya, dan banyak binatang lainnya yang enggak mungkin aku
sebutkan satu persatu karena terlalu banyak, pegal juga nulisnya.
Setelah puas melihat binatang-binatang
di kebun binatang Siantar. Perjalanan kami berlanjut ke Siantar Waterpark. Ini
merupakan wahana permainan baru yang ada di Siantar. Kami menuju lokasi permainan
air yang juga menggunakan becak. Karena becak itu begitu unik dan historical,
kami menyempatkan diri dulu untuk berfoto sebagai kenang-kenangan dengan becak
Siantar. Kapan lagi bisa berfoto dengan becak yang penuh dengan sejarah, jadi
tak boleh menyia-nyiakan kesempatan.
Sesampai di Waterpark Siantar. Suasana
sangat sepi, mungkin kami datang tidak di hari libur jadi tidak banyak orang
yang datang. di dalam Waterpark terdapat banyak fasilitas.
Ada
café yang menyediakan berbagai menu hidangan, kolam berenang, wahana permainan
air yang cukup menarik seperti baby and kid water playset yang memang
dikhususkan bagi anak-anak, karena anak-anaknya enggak ada jadi kami yang
bermain, ada water wave, juga ada seluncuran dengan ketinggian puluhan meter dan
Super Fun Bowl. Pada wahana Super Fun Bowl, seluncuran dengan menggunakan ban
dengan ketinggian mencapai puluhan meter dapat menguji andrenalin ketika
meluncur melintasi lorong-lorong menuju kolam yang terletak dibawah,
kawan-kawan tak ada yang berani mencobanya. Mereka rada-rada aneh, udah naik
keatas wahana melalui tangga yang tinggi tapi tak berani mencoba permainannya
dan turun lagi juga menggunakan tangga.
Kami bermain air sampai sore. Kami benar-benar puas bermain air, tapi yang paling
aneh diantara kami adalah tak ada satu pun diantara kami yang ingat untuk bawa
handuk (yang kami ingat cuma main-main airnya aja, perlengkapan lupa dibawa).
kejadian itu tidak akan pernah aku lupakan. Dan tentang kehebohan kami diruang
ganti karena ada anak ular. Sore itu benar-benar kejadian yang absurd tapi lucu
untuk diingat.
Saat kami telah selesai berganti baju
dan siap untuk keluar dari wahana, langit yang semula cerah kini telah berubah
menjadi abu-abu menghitam dan ada rintik-rintik hujan kecil dibarengi dengan
angin yang dingin. Bayang matahari senja pun mulai menghilang.
Kami berniat untuk segera pulang ke
penginapan, tapi sebelumnya kami akan singgah ke Toko roti ganda karena tidak
enak rasanya jika pulang nanti ke Medan tidak membawa oleh-oleh. Kami
menggunakan angkutan umum untuk sampai ke sana, tepatnya di Jalan Sutomo. Di
Toko roti ganda sangat terkenal semacam roti tawar yang diisi selai yang lezat.
Selain roti itu, ada juga dijual kue-kue kering lainnya. Nah, kalau rotinya
enak, kadang-kadang antriannya yang
tidak enak.
Badan rasanya pegal-pegal setelah satu
harian jalan-jalan. Kami sampai penginapan saat maghrib telah tiba. Saat itu
langit menjadi warna biru tua di tambah mendung malam ini. Terkadang warna biru
tua ditambah dengan warna abu-abu awan mendung menjadi perpaduan yang unik. Kami
bersiap-siap untuk mandi dan keluar lagi untuk mencari makan malam. dan
terpilihlah warung nasi goreng di dekat penginapan. Rasanya juga lumayan.
Selesai makan malam tak ada lagi yang
bisa kami lakukan selain tidur karena sudah terlalu lelah. Kami memasang alarm
jam 4 pagi. Karena di jam 6 paginya kami harus sudah sampai stasiun untuk
kembali lagi ke Medan.
Subuh itu tidak ada kendaraan dan
untuk memperdalam petualangan. Kami memilih untuk berjalan kaki dari penginapan
menuju stasiun kereta api, lagian tempat penginapan kami dengan stasiun tidak
terlalu jauh. Hanya sekitar 20 menit
menghabiskan waktu dengan berjalan kaki. Pagi itu saat kami semua jalan
bersama, langit bewarna biru tua dengan kabut tipis, sinar matahari juga belum
tampak. Semilir angin yang bertiup menggoyangkan dahan pepohonan, itu sebabnya
tanah yang kering tempat kami berpijak dibasahi oleh embun yang menetes. Derap langkah
kaki kami memecahkan kesunyian pagi itu.
Berjalan bersama teman-teman yang
lainnya membuat kami tidak terasa sudah sampai stasiun. Lalu kami menunggu
keberangkatan untuk pulang.
Menghabiskan waktu 3 jam lagi untuk perjalanan
menuju Medan dan sekitar jam 11 pagi kami sudah sampai. Liburan kami pun
berakhir.
Terkadang saat kita semua memulai
suatu perjalanan. Ada begitu banyak kenangan yang tercipta diantara kita. Kawan,
mungkin tak banyak kisah lagi yang dapat
kita buat bersama, karena berbagai pilihan kita yang telah berbeda. Tapi aku senang
dapat menuliskan kisah kita ini.



















