Amour

Amour
La voix de mon coeur t'appelle, c'est ma plume qui te l'écrit et mon coeur qui te le dit

Minggu, 17 Agustus 2014

Trip to Siantar



            Perasaan senang saat memilih liburan bersama teman-teman lainnya. Ada Aku, Siti, Loli, Rina,  Desi, Ira dan Ella’. Kota yang kami akan kunjungi untuk liburan kali ini adalah Siantar. Mungkin sudah ratusan kali aku mengunjungi kota ini. Tapi menjadi benar-benar berbeda saat aku dan temen-teman yang mengunjunginya.
          Perjalanan liburan dimulai dari stasiun kereta api. Kami sudah berjanji untuk berkumpul di stasiun. Dan tidak disangka akulah orang yang paling lama datang ke stasiun. Untung enggak ditinggali. Kawan-kawan yang lain juga udah pada ngirim pesan karena cuma aku yang belum datang waktu itu. keterlambatanku  dikarenakan macet lampu merah di jalan,  baru sekitar 10 menit aku baru tiba di stasiun. Aku sudah melihat teman-teman lainnya dan tanpa menunggu waktu lagi kami langsung menuju tempat pemeriksaan tiket untuk selanjutnya naik kereta api. 
   

         Kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam dalam perjalanan. Kota Siantar jaraknya sekitar 127 km dari Medan dan dikelilingi areal perkebunan. Sekitar jam 6 sore kami telah sampai di Siantar. Dari stasiun menuju penginapan, kami menggunakan jasa becak Siantar yang historical dan unik. Becak Siantar dikatakan unik dikarenakan penggunaan sepeda motor BSA (Birmingham Small Arms) sebagai penggeraknya, ini juga menjadi ikon penambah daya tarik Pematang Siantar. Awalnya kendaraan roda tiga ini adalah sepeda motor BSA buatan Inggris. Berdasarkan sejarah kendaraan ini dulunya alat transportasi perang yang digunakan tentara Inggris di Pulau Jawa pada saat Perang Dunia II. Waw, kami begitu beruntung bisa naik becak Siantar mengingat sejarahnya yang seperti itu.  Kami memesan 3 becak sekaligus, dibecak pertama ada aku dan loli, dibecak kedua ada Siti dan Rina, sementara dibecak ketiga ada Ira, Desi dan Ella’ yang ternyata disindir tukang becak karena mereka terlalu ribut (ya ampun… ya ampun.., baru pertama kali ke Siantar mereka udah disindir tukang becak. Heheehheh :D)     
Kami memilih menginap di Humanitas tepatnya di depan Bank Indonesia. Tiba di penginapan kami langsung reservasi dan tak berlama-lama di penginapan. Hanya merebahkan badan sebentar, berganti baju dan pergi makan malam di Siantar Squere.

Aku benar-benar menikmati perjalanan ini. Udara dingin Siantar yang sejuk, langit malam berbintang dan suasana ramai bersama teman-teman yang lain. Siantar juga sangat cocok untuk tempat berwisata kuliner.
          Setelah acara makan malam usai, kami kembali lagi ke penginapan di jam 10 malam. awalnya kami ada rencana untuk main kartu tapi kami malah memilih untuk tidur dikamar masing-masing karena sudah terlalu lelah dan sudah tidak sanggup lagi buat main kartu.
          Keesokan paginya, banyak tempat yang akan kami kunjungi (Cuma tiga tempat sih). 


Tempat pertama yang menjadi destinasi kami adalah Vihara Avalokitesvara. Itu dikarenakan teman-teman yang  penasaran saat melihat patung yang menjulang tinggi dari Siantar Squere, kami semua terpesona dan ingin kesana. Vihara ini terletak di Jalan Pane. Saat memasuki kawasan saja kami sudah melihat kemegahan patung Bodhisatva Avalokitesvara (Dewi Kwan Im) yang menjulang begitu tinggi. Patung ini memiliki tinggi kurang lebih 22,8 meter dan dari beberapa sumber yang ada, kalau patung ini terbuat dari batu granit dan didatangkan langsung dari Negeri Cina. Waaaw, bener-benar hebat.  
          


         Patung Dewi Kwan Im merupakan patung terbesar di Indonesia dan Avalokitesvara juga mempunyai arti. Aval artinya mendengar, lokite berarti dunia, svara artinya suara.   Avalokitesvara berarti mendengar suara dunia yang penuh dengan penderitaan. Avalokitesvara juga sering disebut sebagai dewi welas Asih.
          Disekeliling patung Dewi Kwan Im terdapat patung-patung ksatria dan dewa-dewa. Di lokasi patung juga terdapat lonceng besar. Dari pelataran atas kami juga dapat melihat pemandangan kota Siantar yang ada di sekitar vihara. Dari pelataran itu, saat kami membuka mata, hangatnya matahari telah menyinari pagi ini, Angin pagi benar-benar menyejukkan. 
          

         Di sepanjang halaman juga  terdapat banyak sekali ukiran-ukiran, kata teman-teman yang melihatnya,  kami seolah-olah seperti berada di Jogja dengan adanya ukiran seperti itu. kami juga terpesona dengan banyaknya  patung dewa-dewa yang juga terbuat dari batu granit, ukirannya sangat halus dan  rapi. Juga kolam ikan dan diatasnya ada jembatan yang indah.  




          Tak berlama-lama di vihara, setelah puas melihat-lihat dan berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke  Kebun Binatang Siantar. Kami beruntung karena mengunjungi Siantar tidak pada hari libur, dengan begitu keadaan kebun binatang agak sepi dan kami bisa puas melihat binatang-binatang yang ada. 


Kebun binatang Siantar banyak ditumbuhi pepohonan jadi terkesan asri dan sejuk, fasilitas taman hewan ini juga terawat dengan baik. Ada juga museum, kolam renang untuk anak-anak dan juga taman bermain, tapi sayang taman bermainnya tidak dihidupkan karena sedikit orang yang datang ke kebun binatang. Ke taman hiburan kami masuk melalui pintu mulut harimau. 
          

           Kebun binatang Siantar banyak memiliki koleksi hewan. Mulai dari mamalia, Aves dan Reptil. Ada juga binatang langka seperti harimau putih dan juga harimau Sumatera. Kami juga mendengar Singa Afrika yang mengaum begitu keras. Ada juga keluarga monyet, komodo, zebra, landak, unta, buaya, dan banyak binatang lainnya yang enggak mungkin aku sebutkan satu persatu karena terlalu banyak, pegal juga nulisnya.
         

          Setelah puas melihat binatang-binatang di kebun binatang Siantar. Perjalanan kami berlanjut ke Siantar Waterpark. Ini merupakan wahana permainan baru yang ada di Siantar. Kami menuju lokasi permainan air yang juga menggunakan becak. Karena becak itu begitu unik dan historical, kami menyempatkan diri dulu untuk berfoto sebagai kenang-kenangan dengan becak Siantar. Kapan lagi bisa berfoto dengan becak yang penuh dengan sejarah, jadi tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. 
          

         Sesampai di Waterpark Siantar. Suasana sangat sepi, mungkin kami datang tidak di hari libur jadi tidak banyak orang yang datang. di dalam Waterpark terdapat banyak fasilitas. 


Ada café yang menyediakan berbagai menu hidangan, kolam berenang, wahana permainan air yang cukup menarik seperti baby and kid water playset yang memang dikhususkan bagi anak-anak, karena anak-anaknya enggak ada jadi kami yang bermain, ada water wave, juga ada  seluncuran dengan ketinggian puluhan meter dan Super Fun Bowl. Pada wahana Super Fun Bowl, seluncuran dengan menggunakan ban dengan ketinggian mencapai puluhan meter dapat menguji andrenalin ketika meluncur melintasi lorong-lorong menuju kolam yang terletak dibawah, kawan-kawan tak ada yang berani mencobanya. Mereka rada-rada aneh, udah naik keatas wahana melalui tangga yang tinggi tapi tak berani mencoba permainannya dan turun lagi juga menggunakan tangga.
          Kami bermain air sampai sore. Kami  benar-benar puas bermain air, tapi yang paling aneh diantara kami adalah tak ada satu pun diantara kami yang ingat untuk bawa handuk (yang kami ingat cuma main-main airnya aja, perlengkapan lupa dibawa). kejadian itu tidak akan pernah aku lupakan. Dan tentang kehebohan kami diruang ganti karena ada anak ular. Sore itu benar-benar kejadian yang absurd tapi lucu untuk diingat.
          Saat kami telah selesai berganti baju dan siap untuk keluar dari wahana, langit yang semula cerah kini telah berubah menjadi abu-abu menghitam dan ada rintik-rintik hujan kecil dibarengi dengan angin yang dingin. Bayang matahari senja pun mulai menghilang. 
           

        

        Kami berniat untuk segera pulang ke penginapan, tapi sebelumnya kami akan singgah ke Toko roti ganda karena tidak enak rasanya jika pulang nanti ke Medan tidak membawa oleh-oleh. Kami menggunakan angkutan umum untuk sampai ke sana, tepatnya di Jalan Sutomo. Di Toko roti ganda sangat terkenal semacam roti tawar yang diisi selai yang lezat. Selain roti itu, ada juga dijual kue-kue kering lainnya. Nah, kalau rotinya enak, kadang-kadang antriannya  yang tidak enak.
          Badan rasanya pegal-pegal setelah satu harian jalan-jalan. Kami sampai penginapan saat maghrib telah tiba. Saat itu langit menjadi warna biru tua di tambah mendung malam ini. Terkadang warna biru tua ditambah dengan warna abu-abu awan mendung menjadi perpaduan yang unik. Kami bersiap-siap untuk mandi dan keluar lagi untuk mencari makan malam. dan terpilihlah warung nasi goreng di dekat penginapan. Rasanya juga lumayan.
          Selesai makan malam tak ada lagi yang bisa kami lakukan selain tidur karena sudah terlalu lelah. Kami memasang alarm jam 4 pagi. Karena di jam 6 paginya kami harus sudah sampai stasiun untuk kembali lagi ke Medan.
          Subuh itu tidak ada kendaraan dan untuk memperdalam petualangan. Kami memilih untuk berjalan kaki dari penginapan menuju stasiun kereta api, lagian tempat penginapan kami dengan stasiun tidak terlalu jauh.  Hanya sekitar 20 menit menghabiskan waktu dengan berjalan kaki. Pagi itu saat kami semua jalan bersama, langit bewarna biru tua dengan kabut tipis, sinar matahari juga belum tampak. Semilir angin yang bertiup menggoyangkan dahan pepohonan, itu sebabnya tanah yang kering tempat kami berpijak dibasahi oleh embun yang menetes. Derap langkah kaki kami memecahkan kesunyian pagi itu.
          Berjalan bersama teman-teman yang lainnya membuat kami tidak terasa sudah sampai stasiun. Lalu kami menunggu keberangkatan untuk pulang. 
          

           Menghabiskan waktu 3 jam lagi untuk perjalanan menuju Medan dan sekitar jam 11 pagi kami sudah sampai. Liburan kami pun berakhir.
          Terkadang saat kita semua memulai suatu perjalanan. Ada begitu banyak kenangan yang tercipta diantara kita. Kawan,  mungkin tak banyak kisah lagi yang dapat kita buat bersama, karena berbagai pilihan kita yang telah berbeda. Tapi aku senang dapat menuliskan kisah kita ini.

Jumat, 15 Agustus 2014

Taman Simalem Resort


           Merencanakan liburan adalah hal yang paling membuatku senang. Awalnya kami sekeluarga merencanakan liburan ke Silalahi untuk memancing dan menikmati pinggiran Danau Toba lalu menginap satu malam disana. Tapi rencana itu tiba-tiba saja berubah, tak jadi pergi memancing ikan, kami malah berbelok arah ke Taman Simalem Resort. Walau sempat pergi ke suatu daerah yang yang tidak aku kenal. Nama daerah itu seperti dalam bahasa korea, mereka menyebutnya “Haranggaol”, tuh kan bener kayak ada korea-koreanya gitu. kami juga tidak jadi  pergi kesana dan kata orang-orang setempat itu juga tempat untuk memancing.
          Sampai di Taman Simalem dari security command post. Kami diberikan peta lokasi tempat-tempat yang akan dikunjungi didalam kawasan. Aku membolak-balik peta, membacanya lalu mengikuti petunjuk yang ada dan menjadi pemandu jalan. 
          

         Memasuki kawasan, pertama-tama kami melewati Cultural Heritage. Jalan terus menuju Fountain of Wealth.  Menurutku Fountain of Wealth sebuah air mancur yang indah itu adalah pusat dari kawasan Taman Simalem, dengan itu sebagai patokannya, aku jadi lebih mudah dalam membaca peta. Dari Fountain of Wealth kami menemukan dua jalan lurus kedepan dan berbelok ke kiri. Kami memilih berbelok ke kiri menuju Buddhist Temple. Di Buddhist Temple kami hanya sebentar karena tempatnya masih direnovasi lalu kembali lagi ke Fountain of Wealth sebagai patokan, dan memilih jalan lurus kedepan melewati Labyrinth, mini golf, ada juga Toba Café lalu berhenti di Pearl of lake Toba. Kemudian singgah ke AgroMart. 

Memasuki AgroMart aroma teh dan kopi menyeruak dari dalam ruangan, dipenciuman terasa hangat. Bahkan kita bisa mencicipi teh dan kopi di ujung ruangan. Aroma teh dan kopi yang kuat itu berasal juga dari belakang AgroMart karena disitulah proses pembuatan teh dan kopi berlangsung.
          Didalam AgroMart juga dijual beberapa buah-buahan dari kebun di kawasan Simalem. Kita juga bisa memilih buah-buahan organik dan segar untuk di jus dan di minum sari buahnya di café  didalam AgroMart.
          

                              Saat setelah keluar dari AgroMart

        Perjalanan berlanjut ke One Tree Hill, sebuah bukit hanya dengan satu pohon tertanam dipuncaknya. Melihat one tree hill mengingatkan aku dengan novel “Kana di Negeri Kiwi”  cerita didalam novel itu, kita juga menemukan One Tree Hill di Auckland , Selandia Baru. One Tree Hill (Maungakiekie)  di Auckland konon tempat itu memiliki nilai historis bagi orang Maori. Maungakiekie, artinya bukit anggur kiekie, merupakan rumah bagi salah satu pemukiman suku Maori terbesar di Selandia Baru dan mencakup tiga situs pa (benteng bukit). Masyarakat masa lampau membuat terasering besar-besaran di bukit itu, dan merupakan benteng olah bumi prasejarah terbesar di dunia. 
Maungakieie yang mengagumkan merupakan arena rekreasi yang luas bagi warga Auckland sekaligus para pengunjung - dengan jalur pejalan kaki, hamparan hutan, area piknik, serta kandang domba dan ternak, ada perasaan damai seperti di desa berada di ceruk dalam kota ini. Begitulah sekilas ingatanku untuk novel “Kana di Negeri Kiwi”, buku itu benar-benar mempesona. Melihat pemandangan di One Tree Hill membuatku seolah-olah merasa seperti Dejavu (sesuatu hal yang  pernah aku lihat padahal aku belum pernah melihatnya) mungkin pengaruh dari membaca novel itu.

Di One tree Hill pemandangannya jauh lebih indah karena dapat melihat seluruh pemandangan bahkan dapat melihat  dengan jelas Danau Toba. Karena kawasan ini juga merupakan tanah lapang dan tempatnya sangat tinggi, banyak angin yang berhembus kearah kami. Bahkan suatu waktu angin itu juga membawa pasir yang bisa membuat mata kelilipan karena terkena pasir yang dibawa angin. Ya ampun aku juga baru pertama kali melihat pasir yang bergerak begitu besar saat angin kencang mulai datang.
Dari One Tree Hill perjalanan berlanjut lagi ke Flower Nursery. Menuju Flower nursery, kami lagi-lagi melewati Fountain of Wealth, lalu berhenti sebentar untuk mengabadikan foto di air mancur yang terasa dingin jika airnya terkena ke badan tanpa sengaja. 

Memasuki Flower Nursery sebagai tempat pembibitan bunga. Ada beberapa bunga yang aku temui seperti bunga geranium untuk pengusir nyamuk, bunga terompet dan ada beberapa bunga lainnya yang tidak aku kenal namanya. Selebihnya banyak daun-daun didalam pot, yang membuatku tertarik adalah daun didalam pot yang berwarna merah jambu, tertulis di papan namanya daun polkadot (rada-rada aneh nama daunnya). Rasanya mau aku bawa pulang sekalian pot sama papan namanya.
Bosan di Flower Nursery karena itu-itu saja yang dilihat. Kami berlanjut turun ke bawah menuju zona petualangan. Aku malah tidak terlalu tertarik dan terus berjalan menuju pinggiran sungai dan ada tempat-tempat kosong untuk piknik. Aku bisa melihat aliran sungai dan banyak bebatuan. Untuk sesaat aku berhenti dan menikmati pemandangan sekitar. Lalu berjalan lagi menuju Waterfall Lodge.

Hal yang paling aku suka adalah beristirahat di Villa Eucaliptus. Dari depan kita bisa melihat sungai yang mengalir dengan banyak bebatuan. 

Aku bisa bermain air dan menenggelamkan kakiku hanya sebatas mata kaki kedalam air yang sedingin es, kaki ini sepertinya bisa membeku. 

Ini sebutannya sama seperti “alam semula jadi”, maksudnya sesuatu yang benar-benar alami dan menyatu dengan alam. Di belakang villa ada juga air terjun yang indah, hati-hati berada di air terjun karena licin, bangku disampingnya juga licin, dan sepertinya aku betah berada di sini.