Ini
cerita aku dan temanku Siti sama sepupunya juga sih. Awalnya kami mendapatkan
informasi dari teman hingga kami menjadi penasaran dan ingin mencoba membuat
pengalaman sendiri untuk masuk Rumah Hantu Indonesia.
Di hari jum’at kami datang jam sepuluh
pagi di Paladium lantai 2. Namun ternyata rumah hantu dibuka pukul setengah dua
siang, nunggu deh terpaksa. Aku memperhatikan sekeliling, tema yang diambil
untuk rumah hantu kali ini rumah sakit. Judulnya Hospital van De Cremerwerg. Semuanya
dibuat dengan nuansa rumah sakit. Penjaga pintu depan dan belakang memakai baju
perawat warna hijau. Sedangkan penjaga tiket menggunakan baju dokter dengan
sedikit noda darah. Lalu tulisan tiket dimeja juga bertulisan dengan noda darah.
Suara-suara latar yang memperseram
suasana sangat keras dan mengagetkan (suaranya seperti pintu yang dibuka
perlahan-lahan lalu timbul suara yang mengerikan, lalu muncul teriakan-teriakan
orang-orang yang menjerit sekuat-kuatnya karena ketakutan).
Ketika menunggu kami tidak
menyia-nyiakan momentum untuk berfoto di poster besar Rumah Hantu Indonesia. Menunggu
pukul setengah dua siang kami berjalan-jalan mengelilingi paladium. Hingga akhirnya
tidak terasa waktu itu pun tiba. Saat kami naik ketempat tujuan ada begitu
banyak orang yang mengantri. Aku memperkirakan ada ratusan orang. Karena lelah
menunggu kami hanya duduk bercerita disamping antrian yang panjang. Tepat pukul
tiga kami tak tahan menunggu hingga akhirnya kami memilih untuk memotong jalan antrian hingga lebih cepat mencapai
pintu awal. Ternyata cara itu berhasil. Aku sudah berada di dalam rombongan
yang terdiri dari 9 orang. Enggak nyangka kami masuk rombongan anak-anak SMP, ngerasa
tua deh.
Awalnya
aku merasa tidak takut. Aku berpikir hantu didalam kan manusia , kenapa harus
takut? Tapi setelah masuk pikiran awal
itu pun terbantahkan. Masih sangat jelas didalam ingatan, aku berdiri paling
belakang rombongan. Ruangan sangat gelap dan wewangian kemenyan, bunga kamboja
yang menusuk-nusuk hidung dan udara yang pengap menyesakkan.
Suasananya sangat gelap hanya
diterangi lampu-lampu temaran berwarna merah yang redup dan remang. Dengan sedikit
cahaya aku dapat melihat apa yang ada dihadapanku. Aku melihat tempat-tempat
tidur yang disusun persis seperti didalam rumah sakit. Ada beberapa patung
wajah terbakar. Ibu melahirkan dengan banyak darah pada bayinya. Ada begitu
banyak hal didalam tapi aku tidak mampu mendeskripsikan semuanya karena suasana
gelap dan aku tidak bisa melihat apa-apa selain lorong demi lorong yang kami
lewati. Namun ada beberapa jenis hantu yang mengagetkan.
Diawal
membuka pintu saja kami sudah dikagetkan dengan hantu wanita. Hantu wanita itu
mengejar kami dari belakang. Karena posisiku yang paling belakang tak sengaja
aku melihat wajah wanita itu carut marut, pakaian warna putih dan rambut
panjang dan noda-noda darah itu benar-benar menjijikkan.
Aku sadar kalau aku paling belakang
dalam rombongan, aku benar-benar enggak tahan diganggu hantu-hantu
menjengkelkan itu bahkan untuk berteriak pun aku tak sempat karena ketakutan. Aku
menggandeng tangan temanku dengan eratnya dan berlari secepat mungkin. Tidak hanya
dikejar-kejar hantu dari belakang. Kami juga harus mencari pintu jalan keluar
untuk ruang berikutnya sampai pintu terakhir.
Diruang berikutnya ada banyak tempat
tidur yang disusun rapi, aku rasa itu sejenis kamar mayat. Ada 3 tempat tidur,
kami harus melewati itu terlebih dahulu baru bisa mencapai pintu untuk
keruangan selanjutnya. Tapi saat kami mulai melewatinya, ada yang bangun dari
salah satu tempat tidur dengan wajah berantakan, susah mendeskripsikannya. Kami
pun terkejut setengah hidup dan terus berlari menuju pintu berikutnya. Tetap saja
aku hanya melihat warna merah dan gelap dan mulailah hantu-hantu yang lain
bermunculan. Ada seseorang yang menanyakan keberadaan matanya, mungkin bola matanya
terlepas. Ada juga suster yang duduk dilantai disamping tempat tidur,
melambai-lambaikan tangannya meminta pertolongan yang aku tidak mengerti apa
maksud si suster. Lain halnya dengan temanku yang melihat orang tinggi besar di
dekat pintu, tingginya menjulang kelangit-langit ruangan. Saat itu aku sempat
berpikir, apa mungkin ada orang setinggi itu? aku pikir itu hantu asli yang
mereka lihat.
Rasanya waktu berjalam sangat lama
didalam ruangan. Sebenarnya ruangan yang kami masuki tidak terlalu lebar secara
keseluruhan. Namun ruangan itu disekat-sekat sedemikian rupa hingga menjadi
banyak ruangan dan parahnya lagi ada beberapa pintu pengecoh yang bisa membuat
kami lama keluarnya dari ruangan itu. pintu itu seperti tirai yang harus kami
sibakkan.
Rasanya aku ingin cepat-cepat menuju
pintu keluar. Walaupun harus melewati beberapa hantu akhirnya kami bisa
menemukan pintu keluar yang ada di ujung ruangan. Dan tepat di pintu keluar ada
hantu yang diikat seperti permen, kata mereka itu sejenis pocong yang
lompat-lompat. Kasian tu hantu, lagian kami udah enggak peduli lagi. Kami hanya
terus berlari hingga mencapai pintu keluar.
Aku baru sadar kalau kakiku gemetaran.
Antara lelah berlari atau ketakutan. Namun setelah duduk dan menenangkan diri
lalu mengingat kejadian barusan. Semuanya jadi terlihat lucu dan menjadi cerita
humor yang kami bagi ceritanya ke teman-teman yang lain. bahkan ada teman-teman
yang lain ingin merasakan hal yang sama. Ini Rumah Hantu Indonesia Part I
dengan tema “Hospital van De Cremerwerg” dan Part II dengan tema “bangkitnya
Arwah Paulina”. Kita tunggu aja ya kelanjutannya. Lama-lama pegal juga
nulisnya, sekian dulu ya :D


Tidak ada komentar:
Posting Komentar