Amour

Amour
La voix de mon coeur t'appelle, c'est ma plume qui te l'écrit et mon coeur qui te le dit

Kamis, 01 Mei 2014

Rumah Hantu Indonesia, Hospital Van De Cremerwerg



Ini cerita aku dan temanku Siti sama sepupunya juga sih. Awalnya kami mendapatkan informasi dari teman hingga kami menjadi penasaran dan ingin mencoba membuat pengalaman sendiri untuk masuk Rumah Hantu Indonesia.
          Di hari jum’at kami datang jam sepuluh pagi di Paladium lantai 2. Namun ternyata rumah hantu dibuka pukul setengah dua siang, nunggu deh terpaksa. Aku memperhatikan sekeliling, tema yang diambil untuk rumah hantu kali ini rumah sakit. Judulnya Hospital van De Cremerwerg. Semuanya dibuat dengan nuansa rumah sakit. Penjaga pintu depan dan belakang memakai baju perawat warna hijau. Sedangkan penjaga tiket menggunakan baju dokter dengan sedikit noda darah. Lalu tulisan tiket dimeja juga bertulisan dengan noda darah.
          Suara-suara latar yang memperseram suasana sangat keras dan mengagetkan (suaranya seperti pintu yang dibuka perlahan-lahan lalu timbul suara yang mengerikan, lalu muncul teriakan-teriakan orang-orang yang menjerit sekuat-kuatnya karena ketakutan).
          Ketika menunggu kami tidak menyia-nyiakan momentum untuk berfoto di poster besar Rumah Hantu Indonesia. Menunggu pukul setengah dua siang kami berjalan-jalan mengelilingi paladium. Hingga akhirnya tidak terasa waktu itu pun tiba. Saat kami naik ketempat tujuan ada begitu banyak orang yang mengantri. Aku memperkirakan ada ratusan orang. Karena lelah menunggu kami hanya duduk bercerita disamping antrian yang panjang. Tepat pukul tiga kami tak tahan menunggu hingga akhirnya kami memilih untuk memotong  jalan antrian hingga lebih cepat mencapai pintu awal. Ternyata cara itu berhasil. Aku sudah berada di dalam rombongan yang terdiri dari 9 orang. Enggak nyangka kami masuk rombongan anak-anak SMP, ngerasa tua deh.


Awalnya aku merasa tidak takut. Aku berpikir hantu didalam kan manusia , kenapa harus takut?  Tapi setelah masuk pikiran awal itu pun terbantahkan. Masih sangat jelas didalam ingatan, aku berdiri paling belakang rombongan. Ruangan sangat gelap dan wewangian kemenyan, bunga kamboja yang menusuk-nusuk hidung dan udara yang pengap menyesakkan.
          Suasananya sangat gelap hanya diterangi lampu-lampu temaran berwarna merah yang redup dan remang. Dengan sedikit cahaya aku dapat melihat apa yang ada dihadapanku. Aku melihat tempat-tempat tidur yang disusun persis seperti didalam rumah sakit. Ada beberapa patung wajah terbakar. Ibu melahirkan dengan banyak darah pada bayinya. Ada begitu banyak hal didalam tapi aku tidak mampu mendeskripsikan semuanya karena suasana gelap dan aku tidak bisa melihat apa-apa selain lorong demi lorong yang kami lewati. Namun ada beberapa jenis hantu yang mengagetkan.
Diawal membuka pintu saja kami sudah dikagetkan dengan hantu wanita. Hantu wanita itu mengejar kami dari belakang. Karena posisiku yang paling belakang tak sengaja aku melihat wajah wanita itu carut marut, pakaian warna putih dan rambut panjang dan noda-noda darah itu benar-benar menjijikkan.
          Aku sadar kalau aku paling belakang dalam rombongan, aku benar-benar enggak tahan diganggu hantu-hantu menjengkelkan itu bahkan untuk berteriak pun aku tak sempat karena ketakutan. Aku menggandeng tangan temanku dengan eratnya dan berlari secepat mungkin. Tidak hanya dikejar-kejar hantu dari belakang. Kami juga harus mencari pintu jalan keluar untuk ruang berikutnya sampai pintu terakhir.
          Diruang berikutnya ada banyak tempat tidur yang disusun rapi, aku rasa itu sejenis kamar mayat. Ada 3 tempat tidur, kami harus melewati itu terlebih dahulu baru bisa mencapai pintu untuk keruangan selanjutnya. Tapi saat kami mulai melewatinya, ada yang bangun dari salah satu tempat tidur dengan wajah berantakan, susah mendeskripsikannya. Kami pun terkejut setengah hidup dan terus berlari menuju pintu berikutnya. Tetap saja aku hanya melihat warna merah dan gelap dan mulailah hantu-hantu yang lain bermunculan. Ada seseorang yang menanyakan keberadaan matanya, mungkin bola matanya terlepas. Ada juga suster yang duduk dilantai disamping tempat tidur, melambai-lambaikan tangannya meminta pertolongan yang aku tidak mengerti apa maksud si suster. Lain halnya dengan temanku yang melihat orang tinggi besar di dekat pintu, tingginya menjulang kelangit-langit ruangan. Saat itu aku sempat berpikir, apa mungkin ada orang setinggi itu? aku pikir itu hantu asli yang mereka lihat.
          Rasanya waktu berjalam sangat lama didalam ruangan. Sebenarnya ruangan yang kami masuki tidak terlalu lebar secara keseluruhan. Namun ruangan itu disekat-sekat sedemikian rupa hingga menjadi banyak ruangan dan parahnya lagi ada beberapa pintu pengecoh yang bisa membuat kami lama keluarnya dari ruangan itu. pintu itu seperti tirai yang harus kami sibakkan.
          Rasanya aku ingin cepat-cepat menuju pintu keluar. Walaupun harus melewati beberapa hantu akhirnya kami bisa menemukan pintu keluar yang ada di ujung ruangan. Dan tepat di pintu keluar ada hantu yang diikat seperti permen, kata mereka itu sejenis pocong yang lompat-lompat. Kasian tu hantu, lagian kami udah enggak peduli lagi. Kami hanya terus berlari hingga mencapai pintu keluar.
          Aku baru sadar kalau kakiku gemetaran. Antara lelah berlari atau ketakutan. Namun setelah duduk dan menenangkan diri lalu mengingat kejadian barusan. Semuanya jadi terlihat lucu dan menjadi cerita humor yang kami bagi ceritanya ke teman-teman yang lain. bahkan ada teman-teman yang lain ingin merasakan hal yang sama. Ini Rumah Hantu Indonesia Part I dengan tema “Hospital van De Cremerwerg” dan Part II dengan tema “bangkitnya Arwah Paulina”. Kita tunggu aja ya kelanjutannya. Lama-lama pegal juga nulisnya, sekian dulu ya :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar