Seperti
upacara pada umumnya disekolah, tapi ini
agak sedikit berbeda karena diakhir
upacara, sekolah mengumumkan juara-juara umum dan dari hal itulah mimpi
itu berasal. Betapa aku sangat menginginkan namaku yang dipanggil ke depan
untuk menerima penghargaan. Dan keinginan sederhana itu ternyata bisa menjadi
ambisi yang kuat, aku sendiri saja tidak menyangka akan hal ini sebelumnya dan
dari sinilah semuanya berawal.
Tujuanku adalah namaku diumumkan saat
upacara dihari Senin dan menerima penghargaan juara umum, hanya itulah
impian sederhanaku saat itu. Tak banyak orang yang tahu kalau ada begitu banyak
hal yang aku korbankan untuk impianku yang satu itu, seperti aku harus mengundurkan diri dari club baca, mengurangi
bacaan novel-novel kesukaanku. Padahal aku tahu itu adalah duniaku. Itu memang
membuatku sedih tapi pengorbanan yang kulakukan setimpal dengan apa yang aku dapatkan
berikutnya.
Mengundurkan diri dari club baca dan
hanya fokus belajar di sekolah membuatku sedikit sedih di pertengahan kelas
tiga SMA. Saat itu aku berpikir ingin menciptakan satu karya saja di penghujung masa
SMA, ternyata hal itulah yang membawaku pada keinginanku untuk kembali menulis.
Aku berpikir untuk sejenak relaksasi
dari kegiatan belajar di sekolah yang menjenuhkan dan kembali menulis, karena
terkadang dengan menulislah aku merasa bebas. Sebulan aku menyelesaikan
naskahku, terus terang saja aku tidak boleh terlalu lama berkutat dalam dunia
tulisan, karena aku harus fokus belajar untuk mempertahankan impianku yang satu
itu.
Naskah
itu aku ikut sertakan dalam perlombaan Cerita remaja Islam Tingkat Nasional
tahun 2011 yang sebelumnya aku pernah mengikuti ajang perlombaan yang sama di tahun 2009. Niatku hanya menulis saja saat mengikuti
ajang ini. Tak pernah terpikirkan dalam
benakku akan menang lagi. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain.
Tanpa disangka-sangka, kejadiannya saat itu di pagi hari, saat disekolah aku
mendapatkan telepon dari temanku Nur Afni
yang juga seorang penulis dari Jawa
Barat , Afni dengan novelnya ‘Kado tak Bertuan’, dia memberitahuku kalau dia
melihat namaku ada di Koran Republika karena masuk nominasi Cerita Remaja Islam
Tingkat Nasional 2011. Mendengar hal itu jantungku berdetak luar biasa cepat.
aku membeli Koran Republika yang direkomendasikan temanku itu. dengan hati-hati
aku membuka Koran itu lembar demi lembar, mencari keberadaan namaku. Dan benar
apa yang dikatakan temanku kalau namaku ada dalam sepuluh nominasi.
Pada siang harinya, aku baru
mendapatkan kabar dari panitia secara resmi mengundangku kembali ke Jakarta untuk
mempresentasikan novelku. Acaranya berlangsung dari tanggal 16 sampai 18
Agustus dan yang paling menyenangkan adalah selain dapat membawa guru
pembimbing aku juga boleh membawa orangtuaku untuk mendampingiku.
Aku berangkat ke Jakarta dengan
membawa nama sekolah dan Provinsi Sumatera Utara dan semua beban atas nama
besar itu membuatku sedikit depresi memikirkannya.
Di Jakarta aku menemui ada 20 peserta
dari seluruh Indonesia, 10 peserta dari tingkat SMP dan 10 peserta lainnya dari
tingkat SMA termasuk aku berada didalamnya. Aku juga menemui juri yang sama Pak
Noorca M Massardi dan Pak Yudistira ANM Massardi.
Seperti pada ajang sebelumnya kalau
kami juga akan mengadakan technical meeting di lantai dua aula Hotel Cempaka
Putih di tempat yang sama saat ajang kompetisi ini di tahun 2009.
Jika dulu kami ada 4 orang yang
mewakili Sumatera Utara pada kompetisi di tahun 2009, tapi kali ini aku hanya
seorang diri membawa nama provinsi. Saat itu membayangkannya saja membuatku
takut. Aku takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk daerahku.
Selesai tehcnikal meeting aku sempat
mengobrol ringan dengan juri-juri dan betapa kagetnya aku saat Pak Noorca dan
Pak Yudistira masih mengingatku saat kompetisi 2009.
Aku kembali ke kamar jam 11 malam,
perasaanku benar-benar enggak tenang untuk memikirkan besok presentasi.
Berharap beban yang ada dibenakku bisa dibuang tapi tetap saja aku merasa
khawatir. Memikirkan tidur? Rasanya tidak ada lagi waktu untuk tidur. Malam itu
selesai tehcnikal meeting aku harus terus berlatih sampai besok paginya. Yang
kupikirkan adalah untuk melakukan yang terbaik. Aku harus berlatih sekeras yang
aku bisa, bahkan aku sampai lupa untuk tidur.
Besok paginya sekitar pukul delapan
presentasi itu dimulai. Aku mendapatkan urutan nomor 3, aku menunggu dengan
harap-harap cemas. Jantungku berdetak cepat hingga sedikit sakit. Tapi aku
terus meyakinkan diriku kalau semuanya pasti baik-baik saja. Berharap ini akan
indah pada waktunya.
Namaku di panggil untuk maju ke
podium. Aku melihat sekeliling, menatap juri-juri, melihat orang tuaku di
bangku penonton bersama dengan saudara yang juga ikut menyaksikanku, melihat
peserta dan tamu undangan lain. tak ada pilihan lagi selain maju terus, menunjukkan
yang terbaik. Kukatakan saat presentasi aku menulis novel ini terkhusus untuk
remaja Indonesia, remaja Indonesia harus kuat dalam menghadapi masalah-masalah
dalam hidup karena hal itulah yang akan mewarnai kehidupan. Jika kasus hari ini
adalah hujan, maka besok penyelesaian masalah adalah panas mentari dan
selanjutnya kita akan mendapatkan pelangi. Itulah inti dari novel dengan judul
Mejikuhibiniu itu. Aku buat untuk memotivasi dan menginspirasi para remaja jika
menghadapi proses kehidupan sepahit apapun itu untuk tidak menyerah pada
kenyataan yang ada.
Aku diberikan waktu sekitar 10 menit
untuk presentasi. Setelah presentasi, perasaanku lega luar biasa tapi menjadi
sangat khawatir dengan peserta-peserta lainnya yang mereka juga bagus-bagus,
berikut adalah nama penulis dengan naskah mereka yang luar biasa (ada Usman
Al-Ansor ‘Gadis Filantrofis’, Indah Gamatia ‘Hidupku’, Rizki Ahmad
Irsyad ’Pengorbanan yang Sempurna’, Febyola Tiara Putri ‘Ketika
Aku Mencintaimu’, Rahma Febriani ‘Kasih yang Terlahir’, Tri Uswatun
Hasanah ‘A Good Destiny’, Ana Mareta ‘Gadis Serabutan’, Zainal
Fahmi Firdaus ‘Perjalanan Menuju Surga’, dan Fransiska Ferantika Dewi ‘Setumpu
Khilafku’).
Sekitar pukul 3 sore saat semua
peserta sudah presentasi. Ada beberapa agenda yang harus kami lewati sebelum
malamnya diumumkan oleh juri siapa yang keluar menjadi pemenang. Acara yang
sebenarnya aku tunggu-unggu yaitu workshop bersama para juri. Kami akan
menerima banyak ilmu dan bisa bertanya apa saja tentang dunia tulisan maupun
tentang dunia perfilman karena salah satu juri termasuk sutradara. Ini
merupakan kesempatan yang luar biasa.
Dalam workshop itu Pak Noorca dan Pak
Yudhistira menceritakan pengalamannya sebagai penulis sejak 1970-an, pesan yang
disampaikan para juri kepada kami para peserta adalah bahwa seorang penulis
harus terus belajar dan menggali diri sendiri melalui karya penulis lain dan
harus jeli dalam menangkap ide. Dan banyak hal yang kami bicarakan dalam
workshop itu bahkan ada sesi tanya jawab didalamnya sehingga kami bebas
bertanya apapun.
Hingga akhirnya jam 8 malam kami
seluruh peserta, guru pembimbing, para panitia acara dan orang tua dikumpulkan
kembali di dalam aula. Karena akan diumumkan pemenang dalam perlombaan itu. aku
benar-benar gugup. Masih dalam ingatanku, aku duduk dibangku nomor tiga dari depan. Disampingku
ada Ana Mareta juga bersama dengan
orang tuanya, kami saling sapa dan saling mengungkapkan tentang perasaan kami
masing-masing dan betapa gugupnya kami semua yang ada di dalam ruangan itu. Aku
merasakan suhu ruangan sangat dingin, antara dua kemungkinan, yaitu aku
ketakutan karena terlalu khawatir atau memang karena ruangan itu yang
benar-benar dingin. Tanganku gemetar tapi tiba-tiba ibunya Ana yang ada di
sebelahku memberikan aku sapu tangannya, katanya supaya tanganku enggak
gemetaran lagi, aku begitu terharu. Aku mengucapkan banyak terima kasih karena
sapu tangan itu sangat membantu, tanganku tidak gemetaran lagi. Kejadian itu
mana mungkin bisa aku lupakan.
Dan tibalah momen pengumuman itu, kami
semua para peserta di panggil ke depan aula. Jantungku semakin berdetak enggak
karuan.
Kami para peserta hanya menunggu
hingga akhirnya nama kami di panggil satu per satu, urutan pemenangnya
diumumkan dari urutan terakhir. Saat itu aku tidak bisa berpikir apapun, hingga
hanya ada 3 nama yang belum diumumkan saat itu, ada aku, Usman dan juga Indah.
Betapa kagetnya aku dan perasaan enggak percaya saat namaku, provinsi dan
karyaku diumumkan menjadi yang terbaik, aku berada diposisi pertama. Diposisi
kedua ada Usman dan setelahnya Indah Gamatia.
Aku kembali menerima penghargaan dari
menteri agama yang saat itu menjabat Bapak Surya Darma Ali di Departemen Agama
Jakarta saat 17 Agustus. Aku merasa ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan.
Banyak sekali hal-hal yang sangat
menyenangkan setelah penerimaan penghargaan itu, seperti kembali berkeliling
Jakarta dan memilih Sea World Indonesia untuk dikunjungi.
Tak hanya sampai di situ ,saat kembali ke Medan, aku tidak menyangka kalau
akan diwawancarai dengan Majalah Gontor. Secara tiba-tiba juga namaku sudah ada
di beberapa Koran.
Lalu bagaimana dengan impian juara
umumku itu? Impianku itu benar-benar
terwujud, aku mendapatkan 2 upacara terindah dalam hidupku, upacara pertama
saat aku diumumkan mendapatkan juara umum dan upacara kedua saat namaku
diumumkan sekolah sebagai penulis novel remaja islami tingkat nasional. Dan hanya
perasaan “Bahagia” yang kurasakan dalam hatiku yang seakan-akan ingin meledak.
Kawan,
nama indah didalam novelku itu adalah Mejikuhibiniu, disini aku belajar kalau
kita harus terus menjaga harapan baik dalam hidup kita.











