Amour

Amour
La voix de mon coeur t'appelle, c'est ma plume qui te l'écrit et mon coeur qui te le dit

Sabtu, 13 Desember 2014

Jakarta Ceris 2011, Warna Indah itu Bernama Mejikuhibiniu



Seperti upacara pada umumnya disekolah,  tapi ini agak sedikit berbeda karena diakhir  upacara, sekolah mengumumkan juara-juara umum dan dari hal itulah mimpi itu berasal. Betapa aku sangat menginginkan namaku yang dipanggil ke depan untuk menerima penghargaan. Dan keinginan sederhana itu ternyata bisa menjadi ambisi yang kuat, aku sendiri saja tidak menyangka akan hal ini sebelumnya dan dari sinilah semuanya berawal.
          Tujuanku adalah namaku diumumkan saat upacara dihari Senin dan menerima penghargaan juara umum, hanya itulah impian sederhanaku saat itu. Tak banyak orang yang tahu kalau ada begitu banyak hal yang aku korbankan untuk impianku yang satu itu, seperti  aku harus  mengundurkan diri dari club baca, mengurangi bacaan novel-novel kesukaanku. Padahal aku tahu itu adalah duniaku. Itu memang membuatku sedih tapi pengorbanan yang kulakukan setimpal dengan apa yang aku dapatkan berikutnya.
          Mengundurkan diri dari club baca dan hanya fokus belajar di sekolah membuatku sedikit sedih di pertengahan kelas tiga SMA.  Saat itu aku berpikir ingin  menciptakan satu karya saja di penghujung masa SMA, ternyata hal itulah yang membawaku pada keinginanku untuk kembali menulis.
          Aku berpikir untuk sejenak relaksasi dari kegiatan belajar di sekolah yang menjenuhkan dan kembali menulis, karena terkadang dengan menulislah aku merasa bebas. Sebulan aku menyelesaikan naskahku, terus terang saja aku tidak boleh terlalu lama berkutat dalam dunia tulisan, karena aku harus fokus belajar untuk mempertahankan impianku yang satu itu.
Naskah itu aku ikut sertakan dalam perlombaan Cerita remaja Islam Tingkat Nasional tahun 2011 yang sebelumnya aku pernah mengikuti ajang perlombaan yang sama di  tahun 2009. Niatku hanya menulis saja saat mengikuti ajang ini. Tak pernah terpikirkan  dalam benakku akan menang lagi. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain. 


          Tanpa disangka-sangka,  kejadiannya  saat itu di pagi hari, saat disekolah aku mendapatkan telepon dari temanku  Nur Afni  yang juga seorang penulis dari Jawa Barat , Afni dengan novelnya ‘Kado tak Bertuan’, dia memberitahuku kalau dia melihat namaku ada di Koran Republika karena masuk nominasi Cerita Remaja Islam Tingkat Nasional 2011. Mendengar hal itu jantungku berdetak luar biasa cepat. aku membeli Koran Republika yang direkomendasikan temanku itu. dengan hati-hati aku membuka Koran itu lembar demi lembar, mencari keberadaan namaku. Dan benar apa yang dikatakan temanku kalau namaku ada dalam sepuluh nominasi.

          Pada siang harinya, aku baru mendapatkan kabar dari panitia secara resmi  mengundangku kembali ke Jakarta untuk mempresentasikan novelku. Acaranya berlangsung dari tanggal 16 sampai 18 Agustus dan yang paling menyenangkan adalah selain dapat membawa guru pembimbing aku juga boleh membawa orangtuaku untuk mendampingiku.
          Aku berangkat ke Jakarta dengan membawa nama sekolah dan Provinsi Sumatera Utara dan semua beban atas nama besar itu membuatku sedikit depresi memikirkannya.
          Di Jakarta aku menemui ada 20 peserta dari seluruh Indonesia, 10 peserta dari tingkat SMP dan 10 peserta lainnya dari tingkat SMA termasuk aku berada didalamnya. Aku juga menemui juri yang sama Pak Noorca M Massardi dan Pak Yudistira ANM Massardi. 
          Seperti pada ajang sebelumnya kalau kami juga akan mengadakan technical meeting di lantai dua aula Hotel Cempaka Putih di tempat yang sama saat ajang kompetisi ini di tahun 2009.
          Jika dulu kami ada 4 orang yang mewakili Sumatera Utara pada kompetisi di tahun 2009, tapi kali ini aku hanya seorang diri membawa nama provinsi. Saat itu membayangkannya saja membuatku takut. Aku takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk daerahku.
          Selesai tehcnikal meeting aku sempat mengobrol ringan dengan juri-juri dan betapa kagetnya aku saat Pak Noorca dan Pak Yudistira masih mengingatku saat kompetisi 2009.
          Aku kembali ke kamar jam 11 malam, perasaanku benar-benar enggak tenang untuk memikirkan besok presentasi. Berharap beban yang ada dibenakku bisa dibuang tapi tetap saja aku merasa khawatir. Memikirkan tidur? Rasanya tidak ada lagi waktu untuk tidur. Malam itu selesai tehcnikal meeting aku harus  terus berlatih sampai besok paginya. Yang kupikirkan adalah untuk melakukan yang terbaik. Aku harus berlatih sekeras yang aku bisa, bahkan aku sampai lupa untuk tidur.
          Besok paginya sekitar pukul delapan presentasi itu dimulai. Aku mendapatkan urutan nomor 3, aku menunggu dengan harap-harap cemas. Jantungku berdetak cepat hingga sedikit sakit. Tapi aku terus meyakinkan diriku kalau semuanya pasti baik-baik saja. Berharap ini akan indah pada waktunya.
          Namaku di panggil untuk maju ke podium. Aku melihat sekeliling, menatap juri-juri, melihat orang tuaku di bangku penonton bersama dengan saudara yang juga ikut menyaksikanku, melihat peserta dan tamu undangan lain. tak ada pilihan lagi selain maju terus, menunjukkan yang terbaik. Kukatakan saat presentasi aku menulis novel ini terkhusus untuk remaja Indonesia, remaja Indonesia harus kuat dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidup karena hal itulah yang akan mewarnai kehidupan. Jika kasus hari ini adalah hujan, maka besok penyelesaian masalah adalah panas mentari dan selanjutnya kita akan mendapatkan pelangi. Itulah inti dari novel dengan judul Mejikuhibiniu itu. Aku buat untuk memotivasi dan menginspirasi para remaja jika menghadapi proses kehidupan sepahit apapun itu untuk tidak menyerah pada kenyataan yang ada. 
          Aku diberikan waktu sekitar 10 menit untuk presentasi. Setelah presentasi, perasaanku lega luar biasa tapi menjadi sangat khawatir dengan peserta-peserta lainnya yang mereka juga bagus-bagus, berikut adalah nama penulis dengan naskah mereka yang luar biasa (ada Usman Al-Ansor ‘Gadis Filantrofis’, Indah Gamatia ‘Hidupku’, Rizki Ahmad Irsyad ’Pengorbanan yang Sempurna’, Febyola Tiara Putri ‘Ketika Aku Mencintaimu’, Rahma Febriani ‘Kasih yang Terlahir’, Tri Uswatun Hasanah ‘A Good Destiny’, Ana Mareta ‘Gadis Serabutan’, Zainal Fahmi Firdaus ‘Perjalanan Menuju Surga’, dan Fransiska Ferantika Dewi ‘Setumpu Khilafku’).
          Sekitar pukul 3 sore saat semua peserta sudah presentasi. Ada beberapa agenda yang harus kami lewati sebelum malamnya diumumkan oleh juri siapa yang keluar menjadi pemenang. Acara yang sebenarnya aku tunggu-unggu yaitu workshop bersama para juri. Kami akan menerima banyak ilmu dan bisa bertanya apa saja tentang dunia tulisan maupun tentang dunia perfilman karena salah satu juri termasuk sutradara. Ini merupakan kesempatan yang luar biasa. 
          Dalam workshop itu Pak Noorca dan Pak Yudhistira menceritakan pengalamannya sebagai penulis sejak 1970-an, pesan yang disampaikan para juri kepada kami para peserta adalah bahwa seorang penulis harus terus belajar dan menggali diri sendiri melalui karya penulis lain dan harus jeli dalam menangkap ide. Dan banyak hal yang kami bicarakan dalam workshop itu bahkan ada sesi tanya jawab didalamnya sehingga kami bebas bertanya apapun.
          Hingga akhirnya jam 8 malam kami seluruh peserta, guru pembimbing, para panitia acara dan orang tua dikumpulkan kembali di dalam aula. Karena akan diumumkan pemenang dalam perlombaan itu. aku benar-benar gugup. Masih dalam ingatanku,  aku duduk  dibangku nomor tiga dari depan. Disampingku ada Ana Mareta juga  bersama dengan orang tuanya, kami saling sapa dan saling mengungkapkan tentang perasaan kami masing-masing dan betapa gugupnya kami semua yang ada di dalam ruangan itu. Aku merasakan suhu ruangan sangat dingin, antara dua kemungkinan, yaitu aku ketakutan karena terlalu khawatir atau memang karena ruangan itu yang benar-benar dingin. Tanganku gemetar tapi tiba-tiba ibunya Ana yang ada di sebelahku memberikan aku sapu tangannya, katanya supaya tanganku enggak gemetaran lagi, aku begitu terharu. Aku mengucapkan banyak terima kasih karena sapu tangan itu sangat membantu, tanganku tidak gemetaran lagi. Kejadian itu mana mungkin bisa aku lupakan.
          Dan tibalah momen pengumuman itu, kami semua para peserta di panggil ke depan aula. Jantungku semakin berdetak enggak karuan.

          Kami para peserta hanya menunggu hingga akhirnya nama kami di panggil satu per satu, urutan pemenangnya diumumkan dari urutan terakhir. Saat itu aku tidak bisa berpikir apapun, hingga hanya ada 3 nama yang belum diumumkan saat itu, ada aku, Usman dan juga Indah. Betapa kagetnya aku dan perasaan enggak percaya saat namaku, provinsi dan karyaku diumumkan menjadi yang terbaik, aku berada diposisi pertama. Diposisi kedua ada Usman dan setelahnya Indah Gamatia. 


          Aku kembali menerima penghargaan dari menteri agama yang saat itu menjabat Bapak Surya Darma Ali di Departemen Agama Jakarta saat 17 Agustus. Aku merasa ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. 


          Banyak sekali hal-hal yang sangat menyenangkan setelah penerimaan penghargaan itu, seperti kembali berkeliling Jakarta dan memilih Sea World Indonesia untuk dikunjungi. 


          Tak hanya sampai di situ ,saat  kembali ke Medan, aku tidak menyangka kalau akan diwawancarai dengan Majalah Gontor. Secara tiba-tiba juga namaku sudah ada di beberapa Koran. 
          Lalu bagaimana dengan impian juara umumku itu? Impianku  itu benar-benar terwujud, aku mendapatkan 2 upacara terindah dalam hidupku, upacara pertama saat aku diumumkan mendapatkan juara umum dan upacara kedua saat namaku diumumkan sekolah sebagai penulis novel remaja islami tingkat nasional. Dan hanya perasaan “Bahagia” yang kurasakan dalam hatiku yang seakan-akan ingin meledak. 
Kawan, nama indah didalam novelku itu adalah Mejikuhibiniu, disini aku belajar kalau kita harus terus menjaga harapan baik dalam hidup kita.                
         

Minggu, 17 Agustus 2014

Trip to Siantar



            Perasaan senang saat memilih liburan bersama teman-teman lainnya. Ada Aku, Siti, Loli, Rina,  Desi, Ira dan Ella’. Kota yang kami akan kunjungi untuk liburan kali ini adalah Siantar. Mungkin sudah ratusan kali aku mengunjungi kota ini. Tapi menjadi benar-benar berbeda saat aku dan temen-teman yang mengunjunginya.
          Perjalanan liburan dimulai dari stasiun kereta api. Kami sudah berjanji untuk berkumpul di stasiun. Dan tidak disangka akulah orang yang paling lama datang ke stasiun. Untung enggak ditinggali. Kawan-kawan yang lain juga udah pada ngirim pesan karena cuma aku yang belum datang waktu itu. keterlambatanku  dikarenakan macet lampu merah di jalan,  baru sekitar 10 menit aku baru tiba di stasiun. Aku sudah melihat teman-teman lainnya dan tanpa menunggu waktu lagi kami langsung menuju tempat pemeriksaan tiket untuk selanjutnya naik kereta api. 
   

         Kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam dalam perjalanan. Kota Siantar jaraknya sekitar 127 km dari Medan dan dikelilingi areal perkebunan. Sekitar jam 6 sore kami telah sampai di Siantar. Dari stasiun menuju penginapan, kami menggunakan jasa becak Siantar yang historical dan unik. Becak Siantar dikatakan unik dikarenakan penggunaan sepeda motor BSA (Birmingham Small Arms) sebagai penggeraknya, ini juga menjadi ikon penambah daya tarik Pematang Siantar. Awalnya kendaraan roda tiga ini adalah sepeda motor BSA buatan Inggris. Berdasarkan sejarah kendaraan ini dulunya alat transportasi perang yang digunakan tentara Inggris di Pulau Jawa pada saat Perang Dunia II. Waw, kami begitu beruntung bisa naik becak Siantar mengingat sejarahnya yang seperti itu.  Kami memesan 3 becak sekaligus, dibecak pertama ada aku dan loli, dibecak kedua ada Siti dan Rina, sementara dibecak ketiga ada Ira, Desi dan Ella’ yang ternyata disindir tukang becak karena mereka terlalu ribut (ya ampun… ya ampun.., baru pertama kali ke Siantar mereka udah disindir tukang becak. Heheehheh :D)     
Kami memilih menginap di Humanitas tepatnya di depan Bank Indonesia. Tiba di penginapan kami langsung reservasi dan tak berlama-lama di penginapan. Hanya merebahkan badan sebentar, berganti baju dan pergi makan malam di Siantar Squere.

Aku benar-benar menikmati perjalanan ini. Udara dingin Siantar yang sejuk, langit malam berbintang dan suasana ramai bersama teman-teman yang lain. Siantar juga sangat cocok untuk tempat berwisata kuliner.
          Setelah acara makan malam usai, kami kembali lagi ke penginapan di jam 10 malam. awalnya kami ada rencana untuk main kartu tapi kami malah memilih untuk tidur dikamar masing-masing karena sudah terlalu lelah dan sudah tidak sanggup lagi buat main kartu.
          Keesokan paginya, banyak tempat yang akan kami kunjungi (Cuma tiga tempat sih). 


Tempat pertama yang menjadi destinasi kami adalah Vihara Avalokitesvara. Itu dikarenakan teman-teman yang  penasaran saat melihat patung yang menjulang tinggi dari Siantar Squere, kami semua terpesona dan ingin kesana. Vihara ini terletak di Jalan Pane. Saat memasuki kawasan saja kami sudah melihat kemegahan patung Bodhisatva Avalokitesvara (Dewi Kwan Im) yang menjulang begitu tinggi. Patung ini memiliki tinggi kurang lebih 22,8 meter dan dari beberapa sumber yang ada, kalau patung ini terbuat dari batu granit dan didatangkan langsung dari Negeri Cina. Waaaw, bener-benar hebat.  
          


         Patung Dewi Kwan Im merupakan patung terbesar di Indonesia dan Avalokitesvara juga mempunyai arti. Aval artinya mendengar, lokite berarti dunia, svara artinya suara.   Avalokitesvara berarti mendengar suara dunia yang penuh dengan penderitaan. Avalokitesvara juga sering disebut sebagai dewi welas Asih.
          Disekeliling patung Dewi Kwan Im terdapat patung-patung ksatria dan dewa-dewa. Di lokasi patung juga terdapat lonceng besar. Dari pelataran atas kami juga dapat melihat pemandangan kota Siantar yang ada di sekitar vihara. Dari pelataran itu, saat kami membuka mata, hangatnya matahari telah menyinari pagi ini, Angin pagi benar-benar menyejukkan. 
          

         Di sepanjang halaman juga  terdapat banyak sekali ukiran-ukiran, kata teman-teman yang melihatnya,  kami seolah-olah seperti berada di Jogja dengan adanya ukiran seperti itu. kami juga terpesona dengan banyaknya  patung dewa-dewa yang juga terbuat dari batu granit, ukirannya sangat halus dan  rapi. Juga kolam ikan dan diatasnya ada jembatan yang indah.  




          Tak berlama-lama di vihara, setelah puas melihat-lihat dan berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke  Kebun Binatang Siantar. Kami beruntung karena mengunjungi Siantar tidak pada hari libur, dengan begitu keadaan kebun binatang agak sepi dan kami bisa puas melihat binatang-binatang yang ada. 


Kebun binatang Siantar banyak ditumbuhi pepohonan jadi terkesan asri dan sejuk, fasilitas taman hewan ini juga terawat dengan baik. Ada juga museum, kolam renang untuk anak-anak dan juga taman bermain, tapi sayang taman bermainnya tidak dihidupkan karena sedikit orang yang datang ke kebun binatang. Ke taman hiburan kami masuk melalui pintu mulut harimau. 
          

           Kebun binatang Siantar banyak memiliki koleksi hewan. Mulai dari mamalia, Aves dan Reptil. Ada juga binatang langka seperti harimau putih dan juga harimau Sumatera. Kami juga mendengar Singa Afrika yang mengaum begitu keras. Ada juga keluarga monyet, komodo, zebra, landak, unta, buaya, dan banyak binatang lainnya yang enggak mungkin aku sebutkan satu persatu karena terlalu banyak, pegal juga nulisnya.
         

          Setelah puas melihat binatang-binatang di kebun binatang Siantar. Perjalanan kami berlanjut ke Siantar Waterpark. Ini merupakan wahana permainan baru yang ada di Siantar. Kami menuju lokasi permainan air yang juga menggunakan becak. Karena becak itu begitu unik dan historical, kami menyempatkan diri dulu untuk berfoto sebagai kenang-kenangan dengan becak Siantar. Kapan lagi bisa berfoto dengan becak yang penuh dengan sejarah, jadi tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. 
          

         Sesampai di Waterpark Siantar. Suasana sangat sepi, mungkin kami datang tidak di hari libur jadi tidak banyak orang yang datang. di dalam Waterpark terdapat banyak fasilitas. 


Ada café yang menyediakan berbagai menu hidangan, kolam berenang, wahana permainan air yang cukup menarik seperti baby and kid water playset yang memang dikhususkan bagi anak-anak, karena anak-anaknya enggak ada jadi kami yang bermain, ada water wave, juga ada  seluncuran dengan ketinggian puluhan meter dan Super Fun Bowl. Pada wahana Super Fun Bowl, seluncuran dengan menggunakan ban dengan ketinggian mencapai puluhan meter dapat menguji andrenalin ketika meluncur melintasi lorong-lorong menuju kolam yang terletak dibawah, kawan-kawan tak ada yang berani mencobanya. Mereka rada-rada aneh, udah naik keatas wahana melalui tangga yang tinggi tapi tak berani mencoba permainannya dan turun lagi juga menggunakan tangga.
          Kami bermain air sampai sore. Kami  benar-benar puas bermain air, tapi yang paling aneh diantara kami adalah tak ada satu pun diantara kami yang ingat untuk bawa handuk (yang kami ingat cuma main-main airnya aja, perlengkapan lupa dibawa). kejadian itu tidak akan pernah aku lupakan. Dan tentang kehebohan kami diruang ganti karena ada anak ular. Sore itu benar-benar kejadian yang absurd tapi lucu untuk diingat.
          Saat kami telah selesai berganti baju dan siap untuk keluar dari wahana, langit yang semula cerah kini telah berubah menjadi abu-abu menghitam dan ada rintik-rintik hujan kecil dibarengi dengan angin yang dingin. Bayang matahari senja pun mulai menghilang. 
           

        

        Kami berniat untuk segera pulang ke penginapan, tapi sebelumnya kami akan singgah ke Toko roti ganda karena tidak enak rasanya jika pulang nanti ke Medan tidak membawa oleh-oleh. Kami menggunakan angkutan umum untuk sampai ke sana, tepatnya di Jalan Sutomo. Di Toko roti ganda sangat terkenal semacam roti tawar yang diisi selai yang lezat. Selain roti itu, ada juga dijual kue-kue kering lainnya. Nah, kalau rotinya enak, kadang-kadang antriannya  yang tidak enak.
          Badan rasanya pegal-pegal setelah satu harian jalan-jalan. Kami sampai penginapan saat maghrib telah tiba. Saat itu langit menjadi warna biru tua di tambah mendung malam ini. Terkadang warna biru tua ditambah dengan warna abu-abu awan mendung menjadi perpaduan yang unik. Kami bersiap-siap untuk mandi dan keluar lagi untuk mencari makan malam. dan terpilihlah warung nasi goreng di dekat penginapan. Rasanya juga lumayan.
          Selesai makan malam tak ada lagi yang bisa kami lakukan selain tidur karena sudah terlalu lelah. Kami memasang alarm jam 4 pagi. Karena di jam 6 paginya kami harus sudah sampai stasiun untuk kembali lagi ke Medan.
          Subuh itu tidak ada kendaraan dan untuk memperdalam petualangan. Kami memilih untuk berjalan kaki dari penginapan menuju stasiun kereta api, lagian tempat penginapan kami dengan stasiun tidak terlalu jauh.  Hanya sekitar 20 menit menghabiskan waktu dengan berjalan kaki. Pagi itu saat kami semua jalan bersama, langit bewarna biru tua dengan kabut tipis, sinar matahari juga belum tampak. Semilir angin yang bertiup menggoyangkan dahan pepohonan, itu sebabnya tanah yang kering tempat kami berpijak dibasahi oleh embun yang menetes. Derap langkah kaki kami memecahkan kesunyian pagi itu.
          Berjalan bersama teman-teman yang lainnya membuat kami tidak terasa sudah sampai stasiun. Lalu kami menunggu keberangkatan untuk pulang. 
          

           Menghabiskan waktu 3 jam lagi untuk perjalanan menuju Medan dan sekitar jam 11 pagi kami sudah sampai. Liburan kami pun berakhir.
          Terkadang saat kita semua memulai suatu perjalanan. Ada begitu banyak kenangan yang tercipta diantara kita. Kawan,  mungkin tak banyak kisah lagi yang dapat kita buat bersama, karena berbagai pilihan kita yang telah berbeda. Tapi aku senang dapat menuliskan kisah kita ini.