Judul
buku : Mimpi Sejuta Dolar
Penulis
: Alberthiene Endah
Tebal
: xiv + 368 halaman
Terbit
: September 2011
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Harga : Rp 63.000
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Harga : Rp 63.000
Mimpi Sejuta Dolar
Merry Riana harus mengubur mimpinya
dalam-dalam untuk kuliah di Universitas Trisakti. Mimpi indahnya untuk kuliah
dalam kondisi yang nyaman dan persiapan yang wajar ke Universitas Trisakti
mendadak sirna dan porak-poranda, akibat peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang
memang menorehkan jejak luka batin yang mendalam bagi banyak kalangan,
termasuk semua orang keturunan Tionghoa. Satu-satunya yang terbesit dibenak
hampir semua orang keturunan Tionghoa saat itulah adalah menyelamatkan diri.
Keadaan yang mencekam itulah
membuat kedua orangtua Merry nekat mengirim dia ke Singapura dengan uang
pas-pasan, bahasa Inggris yang buruk serta berbekal uang pinjaman dari
Development Bank of Singapore. Jumlah utang yang diberikan, jika ditotal mencapai
sekitar 300 juta rupiah atau 40 ribu dolar Singapura dalam kurs saat itu.
Dengan begitu tak ada pilihan Merry, dia harus meninggalkan tanah air dan zona
aman hidupnya, lalu mengarungi beratnya masa proses perkuliahan di Nanyang
Technologi University. Namun kepergian Merry ke Singapura adalah awal dari
keberanian mengubah hidupnya.
Saat kepergiannya, Merry hanya dapat
menangis dalam pesawat, karena dia sadar akan ada ujian berat yang menantinya disana
dan benar saja, saat setelah sampai di Singapura ada sebuah peringatan yang
sangat jelas bahwa uang yang Merry miliki tak berarti banyak disana.
Pinjaman
dari Development Bank of Singapore juga tidak mencukupi biaya hidup sepenuhnya.
Merry mendapatkan uang saku yang diberikan setiap 6 bulan sekali sebesar 1500
dolar. Merry langsung berhitung dengan sangat cepat. Uang 1500 dolar dibagi 6
menjadi 250 dolar perbulan, biaya sewa asrama 180 dolar perbulan, sisa 70
dolar. Biaya buku. Fotokopi dan lain-lain bisa mencapai 30-50 dolar. Sisa
sekitar 40 dolar. Dia benar-benar terpana, uang saku yang ada hanya 10 dolar
seminggu untuk memberinya makan selama 7 hari. Dengan sangat keterbatasan dana,
Merry harus bertahan menjalani proses perkuliahan yang berat dengan kondisi
financial yang sangat mengkhawatirkan. Dia melewati hari-harinya dengan
ketabahan luar biasa dan kekuatan mental.
Merry
melewatkan hari-hari yang sulit dengan penghematan yang nyaris tidak masuk
akal, hampir setiap hari Merry menyantap mie instan, mengisi perut sekedarnya
dengan roti tawar, memasan menu makan siang paling murah, serta minum air putih
sebanyak-banyaknya untuk mengatasi lapar dimalam hari. Namun ditengah proses
perjuangan yang sulit, suatu keajaiban Merry bertemu dengan Alva Tjenderajasa
yang juga mempunyai nasib yang sama dengannya. Keduanya menjadi perpaduan
mengesankan sebagai partner yang saling melengkapi dalam perjuangan. Banyak hal
yang mereka diskusikan, teman seiring sejalan dan sahabat sevisi.
Kesulitan
dan pahitnya hidup di Singapura membuat Merry semakin mendekatkan dirinya kepada
Tuhan, dia yakin bahwa kekuatan iman sangat berpengaruh dalam membentuk
ketabahan seseorang dan itu merupakan prinsip yang hakiki, sehingga segala yang
Merry jalani berorientasi pada hal-hal yang baik dengan prinsip yang baik pula.
Merry
berpikir untuk mengupayakan nasibnya dengan melakukan sesuatu, dia memantapkan
diri untuk segera melakukan sebuah aksi yang pasti untuk mencari uang.
Pekerjaan
apapun ia lakukan untuk mencari tambahan penghasilan, bekerja sebagai pembagi
brosur, penjaga toko bunga, bekerja di tempat laundry, pelayan banquet saat
pesta di ballroomhotel mewah, menjadi karyawan di micron, juga pernah mengalami
kegagalan seperti ditipu 200 dolar, lenyapnya harapan Merry dan Alva saat gagal
bisnis penjilidan skripsi, batalnya kesempatan menjadi distributor salah satu
produk kesehatan, bisnis jual beli saham pun menelan kerugian mencapai 10.000
dolar.
Walaupun
begitu pahitnya kegagalan tidak membuatnya menyerah, tidak putus asa, selalu
mensyukuri nikmat, tidak mengeluhkan semua cobaan yang dihadapinya dan selalu
bekerja keras, karena mimpinya untuk terbebas dari beban financial sebelum umur
30 tahun, dapat membayar utang dan membahagiakan orangtua. Merry semakin
semangat bergulung ditengah kegagalannya, dia membuat langkah demi langkah baru
dalam menembus jalan impiannya dan menangkap berbagai peluang untuk bisa
menemukan pintu gerbang yang jelas sebagai jalan menuju sukses.
Dia
tidak takut dalam membentuk cita-citanya, dia sangat powerful, tidak ada yang
tidak mungkin jika memiliki tekad dan keberanian.
Setelah
tamat kuliah Merry memilih untuk menjadi sales asuransi yang membuatnya
ditertawakan oleh teman-temannya. tapi dia tetap teguh, dia mengumpulkan
keberanian dengan bahasa Inggris yang buruk, terjun kejalanan dalam kondisi
perut lapar, kerja 14 jam sehari, 20 kali presentase dan menegakkan tekad untuk
terus maju. Ini adalah fase yang amat sulit dihidup Marry, tapi pada masa
itulah dia diuji untuk untuk mengerahkan segala kekuatan dan potensi yang ada
dalam dirinya.
Etos
kerja keras, itulah harga mati yang harus dibayar untuk membeli masa depan.
Merry menyandang gelar manajer dan president star club atas prestasinya meraih
pencapaian target investasi tertinggi di industry produk financial dan sekarang
mampu membentuk organisasi konsultan keuangan sendiri. Tahun 2006 penghasilan
Merry telah mencapai 1 juta dolar, dia dinobatkan sebagai professional muda di
Singapura.
Alberthiene
Endah penulis buku Mimpi Sejuta Dolar ini sangat berpengalaman dan mampu
membuat pembaca merasakan suasana yang dialami Merry Riana dalam mencapai
keberhasilannya.
Mimpi
Sejuta Dolar, buku yang sangat inspirasional, terutama untuk mereka yang masih
muda, banyak sekali nilai-nilai moral yang diajarkan kepada kita.